Soko Deda Pengemudi Motor Tempel Dan Pencari Ikan

soko.jpgJUBI–Danau Sentani di Kabupaten Jayapura dengan luas 25,5 km persegi atau sekitar 9,630 hektar dari timur kebarat, dimana didaerah pinggiran danau terdapat beberapa perkampungan penduduk memang sangat susah untuk dijangkau. Bukan saja oleh masyarakat diluar lingkungan danau itu saja, tapi juga oleh masyarakat perkampungan di sekitar danau tersebut.

Perkampungan – perkampungan seperti kampung Yoboy, Simporo, Babrongko, Kameyake, Abar, Atamali, Putali, Obong, Iyale, Yobe, Ayapo dan Ifar besar untuk ditempuh dengan jalan darat masih cuku susah dan memerlukan waktu yang cukup lama.
Dengan keberadaan motor tempel sebagai alat transportasi utama masyarakat, aktivitas-aktivitas msyarakat didaerah ini dapat terlaksana dengan baik. Selain itu biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar apabila dibandingkan dengan jalan darat.
Selain motor temple ada juga perahu-perahu kecil (Kole-kole) yang biasa digunakan masyarakat sebagai alat transportasi, namun jarak jangkauannya tidak seperti motor tempel. Dan biasanya kole-kole ini hanya digunakan sebagai transportasi yang lebih dekat serta digunakan masyarakat untuk mencari ikan.
Selain untuk memperlancar aktivitas-aktivitas masyarakat dalam menunjang perekonomian keberadaan motor tempel ini punya peranan yang begitu besar bagi anak-anak sekolah baik yang menempuh pendidikan disentani maupun di Jayapura.
Dengan banyaknya perkampungan serta aktivitas-aktivitas masyarakat yang cukup tinggi keadaan semacam ini juga sangat berpengaruh bagi mata pencaharian warga pinggiran danau Sentani yang mengelola motor temple.
Soko Deda (35) yang mengoperasikan motor tempel sejak tahun 2003, yang berpangkalan di Telaga Maya saat ditemui Jubi baru-baru ini menuturkan tentang suka dan duka dalam menjalani profesi sebagai juru mudi motor tempel.
Deda yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMP saja karena kedua orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya akhirnya memilih menjadi juru kemudi motor tempel ini mengaku cukup puas dengan dengan apa yang ia lakukan selama ini.
“Selain mencari nafkah saya merasa cukup senang karena dapat membantu dan melayani dengan baik bagi masyarakat yang menggunakan jasa angkutan ini” ujarnya
Motor tempel yang dikemudikan Deda merupakan milik saudaranya sendiri sehingga jumlah keuntungan harus dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan
Soko Deda yang sudah dikarunia 4 orang anak dari istrinya Ester Koka (34) menuturkan bahwa kegiatan yang dilakukannya ini biasanya mulai dari pagi hingga malam hari dengan rute Kampung Ayapo menuju Telaga Maya pulang pergi. Rute ini memang merupakan daerah operasi motor tempel yang dikemudikan Deda, sementara untuk melayani lokasi lain harus melalui kesepakatan atau dicarter para pengguna jasa angkutan misalnya menuju kampung Babrongko, Atamali serta lokasi lainnya yang bukan rutenya, karna lokasi-lokasi ini sudah ada motor tempel yang melayaninya.
“Biasanya yang menggunakan jasa angkutan dengan carteran adalah para wisatawan baik dari luar maupun masyarakat umum lainnya yang ingin menyaksikan lebih dekat keindahan danau Sentani.” ujar ayah 4 anak ini.
Besarnya harga carteran menurut Deda biasa di patok sesuai dengan waktu, misalnya penguna jasa angkutan hendak mengunakannya dari pagi hingga sore hari dipungut bayaran sebesar 500 ribu. Begitu pun jika hanya sampai siang biasanya dipatok dari 250 ribu hingga 300 ribu.
Menurut Deda, pagi hari ia harus tepat waktu karena cukup banyak penumpang yang sudah menunggu, terutama anak-anak sekolah serta PNS maupun swasta yang bekerja di Jayapura. Besarnya tarif yang dibebankan bagi anak sekolah biasanya hanya seribu rupiah saja.
Setiap hari Deda mampu melakukan perjalan sampai 5 kali pulang pergi. Untuk satu kali perjalan pergi Deda mengaku mampu mendapat hingga 50 ribu rupiah. Dalam sehari, ia bisa mengantongi sebesar 300 ribu.
300 ribu ini belum merupakan penghasilan bersih bagi Deda, karena motor yang di jalankan adalah milik dari saudaranya.
“Sesuai kesepakatan kalau saya menyetor 300 ribu saya mendapatkan pengahasilan bersih 100 ribu dan 200 ribu untuk yang punya motor.” jelas Deda.
Dipangkalan Telaga Maya tempat motor-motor ini mangkal untuk melayani daerah kampung Ayapo dan sekitarnya terdapat sebanyak 8 motor temple.
Untuk menghindari adanya persaingan yang kurang baik motor-motor ini diberi jadwal. Dari 8 motor dibagi dua kelompok, misalnya saja jika 4 motor beroperasi pada hari Senin, 4 motor lainnya harus istrahat dulu, keesokan harinya lagi atau pada hari selasa keempat motor baru mulai beroperasi dan begitu seterusnya setiap hari. Dengan peraturan seperti ini dalam setiap minggu Deda mendapatkan giliran sebanyak 3 kali.
“Kalau dari 8 motor yang ada semuanya beroperasi pada hari yang sama tentu pendapatan akan sangat minim bahkan ada yang mungkin tidak dapat. Dengan cara seperti ini lebih terorganisir dan waktu tidak terbuang percuma,” ungkap Deda.
Walaupun sudah teroganisir seperti ini namun menurutnya ada juga waktu-waktu dimana penumpang sangat minim. Biasanya menjelang akhir bulan, namun menjelang awal bulan para penumpang mulai kembali normal.
Lanjut Deda, untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan jumlah penumpang juga dibatasi hingga mencapai 20 orang saja.
Memang demikian seharusnya, sebab dari pantauan Jubi dilapangan kondisi motor tempel yang ada pada umumnya tidak dilengkapi dengan peralatan-peralatan keselamatan penumpang sehingga salah satu alternatif utama adalah tidak memuat penumpang yang berlebihan.
Dari hasil pekerjaan Deda sebagai pengemudi motor tempel ia merasa cukup bisa membiayai pendidikan keempat orang anak.
“ Dari hasil yang saya kumpulkan saya mampu menyisipkan minimal 900 ribu setiap bulan. Dari hasil ini juga saya mampu membangun rumah walaupun hanya sederhana saja.” imbuhnya.
Untuk menambah pendapatan Deda dalam menunjang ekonomi keluarganya, pada saat Deda memiliki waktu kosong atau belum mendapat giliran untuk beroperasi biasanya setiap pagi maupun sore hari dirinya berusaha mencari ikan disekitar danau Sentani.
“Kalau hari ini saya beroperasi berarti besok saya tidak narik, jadi kesempatan seperti ini saya manfaatkan untuk mencari ikan untuk dijual kepada penadah.” jelas Deda.
Menurutnya dari hasil ini juga cukup untuk menambah penghasilannya, terutama dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Setiap ia menyempatkan waktu mencari ikan, biasanya Deda mampu mendapat minimal 5 tusuk ikan. Setiap tusuknya dijual 20 ribu hingga 25 ribu. Satu hari mencari ikan, ia bisa mendapatkan hingga 100 ribu.
Dengan adanya kegiatan sampingan ini membuat Deda tidak terlalu berpikir jauh bagaimana menghidupi keluarganya, terutama biaya pendidikan anaknya yang sudah memasuki tingkat SMP.
“Dari empat anak saya, anak pertama sudah dibangku SMP dan ini tentu sudah butuh biaya yang cukup besar, kalau SD tentu tidak terlalu besar. Namun dengan adanya pendapatan tambahan dari mencari ikan untuk saat-saat ini belum terasakan.” ujarnya sambil mempersilahkan para penumpang yang mulai datang.
Sekalipun apa yang didapatkan Deda sekarang ini cukup memberikan pendapatan yang dapat menutupi biaya keluarganya namun dirinya juga bercita-cita mempunyai motor tempel sendiri.
“Untuk bisa mempunyai motor tempel seperti ini harus mempunyai uang minimal 35 juta, 25 juta untuk mesin dan 10 juta untuk perahunya. Uang sebesar ini tentu sangat susah untuk saya dapatkan. Seandainya ada perhatian berupa bantuan yang bersifat angsuran lunak tentu hal tersebut sangat membantu kami.” ungkapnya sambil bergerak menuju motor tempelnya. (Yunus Paelo)

Iklan
%d blogger menyukai ini: