Menanam Tanpa Merawat Sama Dengan Membunuh

pict0156.jpgJUBI – Akhir akhir ini seruan untuk menanam sejuta pohon kembali dicanangkan Presiden SBY. Bahkan hampir setiap Gubernur dan bupati ramai ramai terjun ke lapangan menanam pohon. Sebatang pohon berharga bagi masa depan anak cucu begitulah bunyi pesan yang disampaikan kepada publik.

Namun dibalik itu pokok masalahnya bukan sekadar tanam tetapi bagaimana merawatnya agar tanaman itu tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon. Pengalaman lapangan menunjukan bahwa sebatang kayu Merbau memerlukan waktu 40 tahun untuk mencapai diameter 50 cm.
Memang secara alamiah kayu Merbau membutuhkan waktu lama, meskipun ada rekayasa genetika tetapi itu bukan jalan keluar yang tepat. Mestinya hutan yang tumbuh dan berkembang secara alami tanpa ada proses rekayasa.
Bagaimana dengan aksi sejuta pohon?
Untuk melihat pengalaman menanam dan merawat sebatang pohon berikut penuturan peraih hadiah Kalpataru 2005, Marcel Suebu saat menghijaukan kembali lahan lahan di sekitar CA Cyklop dari padang alang alang menjadi hutan.
Bagi Marcel Suebu aktivis lingkungan dan juga Ketua Kelompok Pecinta Alam Hiroshi Kabupaten Jayapura dalam pengelolaan lingkungan yang dibutuhkan adalah persamaan pandangan antara semua elemen masyarakat. “Untuk itu perlu ada tindak lanjut dari apa yang kita lakukan,”ujar Marcel Suebu yang belum lama ini ditemui Jubi di kediamanya di Sentani Kabupaten Jayapura.
Menanam pohon itu memang pekerjaan gampang tetapi bagaimana merawat dan menjaga agar tanaman pohon matoa, merbau dan sejenisnya bisa bertahan serta bersaing untuk tumbuh menjadi pohon.
“Menanam pohon itu ibarat kita merawat seorang anak kecil, kita perlu mengetahui apa yang mereka butuhkan. Sekarang ini banyak aksi-aksi penanaman pohon yang dilakukan baik pemerintah, agama, adat maupun organisasi-organisasi yang ada, namun setelah penanaman tidak ada perhatian kembali,”ujar Marcel Suebu dengan sedikit kecewa. Selanjutnya dia menambahkan pohon itu tentunya perlu naungan untuk melindunginya dan juga perlu makanan tambahan seperti pupuk dan pengolahan tanah yang telaten serta teliti.
“Pohon butuh pupuk, air serta perlakukan-perlakuan lainnya sehingga dapat bertumbuh dengan baik dan ini tentu memerlukan suatu biaya. Menanam pohon tanpa ada perhatian sama saja dengan membunuh,” jelas Marcel.
Oleh karena itu menurut Marcel hendaknya perlu ada suatu rasa tanggung jawap dengan apa yang dilakukan, siapa yang menanam harus memperhatikannya atau memelihara tanaman tersebut dan perlu ada kerja sama atau melibatkan masyarakat setempat bagaimana tindak lanjut dari penanaman yang dilakukan.
“Jangan sampai setelah penanaman pada pagi hari dan kemudian sore harinya mulai layu dan keesokan harinya tinggal nama pohon saja,” ujar Marcel Suebu.
Lebih lanjut menurut pencinta lingkungan yang mengeluti ini sejak 15 Januari 2001 bersama Club Pencinta Alam (CPA) Hibiscus Rosa Sinensis (HIROSI) dan kemudian menjadi sekolah alam jangan sampai pohon itu tinggal nama saja jelas membutuhkan perawatan dan tambahan dana bagi kelangsungannya.
Upaya-upaya penanaman lain yang pernah dilakukan pada lahan gersang menjadi sasaran kerja kelompoknya yaitu berhasil melakukan pengukuran ketinggian Cyclop pada tangal 28 Oktober 2007 dengan mencapai ketinggian 2.304 meter dari permukaan laut dengan membangun sebuah tugu dengan tinggi 80 CM.
Penemuan ketinggian ini jauh melebihi dari yang pernah dicapai oleh Van Royen pada tahun 1918 dengan ketinggian 1.530 meter dari permukaan laut.
Menurut Marcel melakukan aksi penanaman tentu ada beberapa hal yang harus di perhatikan, seperti yang kerap dilakukan dengan diawali penanaman pohon pohon eksotik atau tanaman dari luar yang pertumbuhannya cukup cepat namun tidak bertahan lama. Setelah tanaman ini cukup tinggi kemudian disela-sela ditanam tanaman endemic yang dapat bertahan cukup lama walaupun pertumbuhannya tidak cepat seperti pohon matoa. Tanaman endemic ini biasa berfungsi sebagai tanaman yang menaungi pohon pohon endemic di lokasi yang hendak ditanami.
Selain itu dalam melakukan aksi-aksi penanaman terkadang terbentur dengan tidak adanya dana guna menunjang kelancaran aktivitas dalam pengadaan dan pemeliharaan tanaman-tanaman yang telah ditanam.
Tentang perubahan iklim menurut Marcel cukup terasa saat masuk hutan biasanya kalau pada awal-awalnya lumut-lumut yang tumbuh di tengah hutan kalau diperas masih mampu mengeluarkan air. Namun keadaan sekarang ini sudah tidak dapat dilakukan lagi.
Bagi Marcel kecintaan terhadap lingkungan hidup diperoleh sejak Sekolah dasar sudah aktif dalam organisasi gereja yang mereka kenal dengan pandu Gereja.
Dalam Pandu Gereja diberikan materi dan kecintaan terhadap lingkungan menjadi prioritas utama. Masing-masing dikelompokkan dan dikelaskan sesuai dengan pendidikan. Untuk kelas SD dikenal dengan Pemula dengan materi alam dan rohani, club remaja atau setara bagi siswa-siswa SMP maupun SMA dengan materi Alam itu Penting, hingga Marcel menginjak kelas dewasa yang di dalammya terdiri dari mashasiswa-mahasiswa yang dikenal dengan Pemimpin Utama.
Setelah aktif dalam organisasi gereja ini sampai menjadi pemimin utama Marcel tidak berenti disi. Berbekal dengan pembinaan di dalam organisasinya ia mulai mendapatkan suatu gambaran tentang hubungan antara Tuhan dengan manusia, Manusia dengan Alam serta manusia dengan sesamanya.
“ Ketiga ini mempunyai hubungan segitiga sama sisi, dimana bila kedua sisinya didekatkan atau antara manusia dan alam didekatkan, antara manusia dan manusia akan didapatkan hanya satu sisi, atau suatu kesatuan atau kesamaan persepsi dalam berbagai hal tentang lingkungan sehingga kondisi alam ini tetap,”ujar Marcel Suebu yang juga guru SMA Negeri I Sentani ini. (Yunus Paelo)

%d blogger menyukai ini: