Pulau Chrismast Ditolak, Pulau Biak Digadaikan

AKANKAH PULAU BAK DIKORBANKAN?

JUBI – Seperti diketahui, pemerintah Indonesia dan Pemerintah Rusia berencana membangun pangkalan peluncuran satelit di Pulau Biak dengan airlunch sistem yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2010. Investasi untuk peluncuran satelit di Pulau Biak ini mencapai US$ 40 juta dari total US$ 250 juta yang diinvestasikan oleh pemerintah Rusia untuk keseluruhan program peluncuran satelit mereka. Tahapan-tahapan proses program peluncuran satelit ini sendiri akan dimulai pada tahun 2008. Pemerintah Federasi Rusia memang telah berencana untuk meluncurkan 100 satelit setiap tahunnya, salah satunya dari Pulau Biak.

Pembicaraan Program peluncuran satelit antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Rusia ini telah dimulai sejak kunjungan Presiden Megawati ke Rusia pada tahun 2003. Selain membeli senjata dan Pesawat Sukhoi yang sempat menghebohkan itu, pemerintahan Megawati yang berkuasa saat itu juga menjajaki kemungkinan kerjasama dibidang luar angkasa. Salah satunya adalah pembangunan lokasi peluncuran Satelit di Biak. Bagi pemerintah Rusia sendiri, rencana kerjasama ini hanya menindaklanjuti rencana 15 tahun yang lalu, karena program menjadikan pulau Biak sebagai pangkalan peluncuran satelit sudah dimulai sejak tahun 1990. Setahun sebelumnya (1989), pemerintah AS telah mengemukakan ketertarikan mereka terhadap pulau Biak dan Waigeo untuk dijadikan pangkalan peluncuran satelit juga, namun anehnya minat pemerintah AS tersebut tidak digubris pemerintah Indonesia.
Pulau Biak memang banyak diminati konsorsium internasional untuk lokasi peluncuran satelit karena lokasinya yang tepat berada dibawah garis equator. Bisnis peluncuran satelit ini memang sangat menggiurkan. Apalagi setelah Price Waterhouse Cooper, sebuah perusahaan auditor terkemuka, melaporkan dalam satu dekade mendatang bisnis peluncuran satelit masih mampu menyerap 40 milyar dollar. Dan dalam persaingan bisnis peluncuran satelit kedepan, paling minim sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis ini bisa meraih 10% dari jumlah keuntungan tersebut. Ini berarti, sesial-sialnya perusahaan yang akan mengelola pangkalan peluncuran satelit di Pulau Biak nanti masih bisa meraih keuntungan sekitar 3,6 trilyun rupiah. Menggiurkan memang! Apalagi bagi kedua negara, Indonesia dan Rusia. Bagi Rusia, mereka tidak perlu menyediakan biaya untuk pembangunan lapangan terbang baru. Pada tahun 1990an, Indonesia dan Rusia hanya membahas masalah lapangan terbang untuk peluncuran roket. Tapi proyek kali ini sudah berubah menjadi landasan pacu bagi pesawat AN-124 yang akan membawa roket Polet yang siap meluncurkan satelit ke luar angkasa. Dan bagi Indonesia, selain mengharapkan alih teknologi ruang angkasa, tentunya keuntungan finansial juga menjadi tujuan. Tapi bagaimana dengan masyarakat Biak sendiri? Apakah mereka akan mendapatkan keuntungan seperti yang selama ini digembar-gemborkan, terutama lapangan pekerjaan yang akan ditimbulkan oleh proyek ini? Selain itu, bagaimana dengan dampak yang akan ditimbulkan dari proyek ini sendiri? Apakah masyarakat Biak akan terlindungi dari dampak negatif proyek-proyek luar angkasa seperti polusi, radiasi, kebisingan, kerusakan biota laut hingga masalah-masalh sosial lainnya yang akan timbul dari proyek ini?
Pemerintah Indonesia seharusnya mengingat kembali respon yang diberikan mereka terhadap rencana pembangunan pangkalan roket Australia di Pulau Chrismast. Dampak negatif yang langsung terbayangkan oleh pemerintah Indonesia saat Pemerintah Australia berkunjung ke Jakarta Februari 2002, untuk mempresentasikan rencana Australia membangun pangkalan peluncuran roket di pulau Christmast adalah bagaimana jika roket tersebut gagal mengorbit dan kemudian meledak di udara? 10 metrik ton bahan bakar cair yang digunakan roket tersebut akan menyebabkan masalah selama beberapa waktu pada udara disekitar tempat kejadian. Selain itu, serpihan roket pun akan jatuh disekitar pemukiman. Inilah resiko pertama yang yang diperdebatkan oleh pemerintah Indonesia pada pemerintah Australia saat itu. Pemerintah Indonesia beralasan dengan jarak yang hanya 360 KM dari Pulau Christmast ke Jakarta, maka dikawatirkan Indonesia akan menanggung resiko besar dari rencana pemerintah Australa tersebut. Para ilmuwan bersama Wakil Lapan, Deplu, Dephan, Kantor Menristek, Badan Intelijen Nasional, dan Dephub langsung bereaksi keras mempertanyakan, bagaimana jika reruntuhannya menimpa bagian negeri ini yang memang dekat jalur lintasan roket? Para pejabat negara dan ilmuwan ini sangat paham dengan resiko yang akan dihadapi oleh Indonesia jika pemerintah Australia membangun pangkalan peluncuran roket tersebut. Lantas, apakah para pejabat negara dan lmuwan in juga memahami resiko yang akan dihadapi jika membangun pangkalan peluncuran satelit di Biak? Sebab Kepala Pusat Analisis dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, Susetyo Mulyodrono sendiri mengakui jika statistik peluncuran roket selama ini, kegagalannya mencapai 20%.
Beberapa kegagalan peluncuran roket di udara celakanya memang bukan musibah yang satu-dua kali terjadi. Bahkan hingga teknologi peroketan telah merengkuh tahapan tercanggih, setidaknya telah tercatat tiga kecelakaan hebat. Pertama, Ariane 5 buatan Prancis berbahan bakar cair oksigen-hidrogen seberat 25 metrik ton yang meledak tak lama setelah diluncurkan dari Kourou, Guyana, 1996. Kedua, Long March buatan Cina yang melenceng dari trayektorinya lalu membumihanguskan sebuah desa. Dan, ketiga, adalah Titan IV buatan Lockheed Martin, AS, yang meledak pada 1999. Belum lagi tragedi pesawat ulang alik Chalenger dan Columbia yang pernah meledak sebelum tinggal landas. (Victor Mambor)

%d blogger menyukai ini: