Potret Jefman ; Dulu, Kini dan Nanti

JUBI – Anak – anak kecil itu berlari dengan bebas tanpa beban, keringat di dahi mereka tersapu kering angin yang bertiup dari arah timur. Ada yang bersepeda berlalu lalang tanpa merasa kuatir. Kadang beberapa orang terlihat berlalulalang. Setiap mereka terlihat hanya ketika mereka melintasi daerah itu, setelah itu mereka hilang terlindung rerumputan ilalang yang tinggi hampir semeterdan menguning terhampar luas sepanjang lapangan terbang Jefman, salah satu kampung dari Kabupaten Raja Ampat.
Beberapa bangunan yang dulunya berfungsi sebagai gudang masih berdiri kokoh dengan atap seng yang berkarat, masih menyimpan cerita dulu. Beberapa pria dengan tubuh kekar dan kulit legam terbakar teriknya matahari mendorong beberapa gerobak melewati pintu gudang yang tinggi dan terbuka lebar. Beberapa lagi sedang berdiri berbicara dengan alat HandyTalky (HT) dan mencatat setiap barang yang didorong kedalam gudang. Sayang pemandangan itu telah hilang beberapa tahun lalu.
Salah seorang Pejabat Pemerintah daerah Kabupaten Raja Ampat yang di wawancara secara langsung dalam acara Siaran Radio Gelar Senat di RRI Sorong , menyatakan tidak bisa menyalahkan pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab yang telah mengambil semua benda dan bahan bangunan di bandara Jefman. Yang tertinggal hanya dasar yang telanjang ditumbuhi rumput liar dan pondasi bangunan Airport. Kala angin kencang, pecahan lapisan tripleks yang bergantungan di loteng Tower bandara akan terpukul dan berderit seolah bercerita tentang sedih dan lumpuhnya sebuah bakal Kota tempat perputaran ekonomi di Raja Ampat
Perputaran ekonomi di Bandara Jefman otomatis lumpuh total. Yang tertinggal hanya cerita. Angkutan laut seperti speedboat dan taksi laut yang dulunya menari-nari diatas kulit air antar Sorong – Jefman kini tidak ada lagi. Lagu deru pecahnya ombak di dinding speedboat dan body longboat taksi laut tidak lagi terdengar.
Beberapa orang telah pergi meninggalkan Jefman, usaha yang gagal, dan berbagai alasan telah bersama-sama pergi. Karena kebijakan politik yang tidak berpihak pada kelangsungan kesejahteraan ekonomi rakyat.
Tapi apakah semua memang telah pergi dari Jefman?
Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, kita hanya membutuhkan waktu cukup pendek.
Saat ini, Jefman yang memiliki lapangan terbang tidak menjadi prioritas perputaran ekonomi. Justru fungsi Jefman dalam rencana pembangunan akan menjadi pusat perikanan laut. Yang akan memasok semua kebutuhan bahan pangan yang berasal dari laut untuk kabupaten Raja Ampat dan Sorong.

Semua kebijakan pemerintah yang memutuskan.
Kemudian pertanyaan yang harus dijawab oleh masyarakat Raja Ampat yang ada di Jefman adalah…..? Kapan dan Dimana hak-hak kami sebagai masyarakat Adat yang memiliki hak ulayat adat dilibatkan dalam semua pengambilan keputusan. Yang masih tertinggal adalah pada masyarakat kecil yang jauh dari segala macam fasilitas yang harus dipenuhi oleh Pemerintah Raja Ampat?
Jefman memiliki potensi ekowisata tapi juga secara geografis ada banyak sekali keuntungan yang bisa dikelola untuk mengembalikan pendapatan masyarakat Raja Ampat di Jefman.
Masyarakat dalam sebuah negara adalah tuan yang sesungguhnya. Negara ada untuk melayani kebutuhan-kebutuhan rakyatnya.
Ironisnya, justru para pemegang tangungjawab merasa mereka adalah tuan dan segala keputusan mereka adalah yang terbaik. Mereka keliru berfikir bahwa kebijakan yang dihasilkan akan memberikan efek yang baik tetapi pada kenyataannya adalah justru sebaliknya.
Massa rakyat seharusnya terlibat dan diberikan kesempatan untuk lebih proaktif sebagai subyek pembangunan dan bukan menjadi obyek, sehingga masyarakat dapat mengembangkan pola berfikir, budaya dan kearifan – kearifan tradisional yang menjadi landasan masyarakat sosial.
Dengan melibatkan massa rakyat dalam menyusun sebuah perencanaan pembangunan maka disitulah terjadi proses pendidikan demokratis yang sesungguhnya.
Karena keterlibatan semua unsur dan masing – masing memberikan bagiannya maka sebuah keseimbangan itu ada dan itulah hidup. Sama seperti sebuah sistem dalam ekosistem. Seharusnya kita sebagai manusia belajar dari alam dan hidup harmonis bersama. Tanpa egois dengan keserakahan eksploitasi yang dibenarkan dalam aturan dan kebijakan untuk kepentingan – kepentingan pihak tertentu yang merugikan massa rakyat.
Jefman dan seluruh Tanah Papua masih menyimpan banyak potensi yang bisa digali dengan melibatkan massa rakyat sebagai subyek pembangunan dengan tetap menjamin kelestarian ekosistem. (Theus Rumere/Belantara Papua – Sorong )

%d blogger menyukai ini: