Definisi Ruang Dalam Pandangan Orang Papasena

Sekilas tentang Papasena
Papasena adalah salah satu kampung ditepian sungai Mamberamo. Secara administratif
kampung ini terdiri dari dua kampung yaitu Papasena I dan Papasena II dan termasuk dalam wilayah Distrik Mamberamo Hulu. Penduduknya berjumlah 377 jiwa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat melakukan kegiatan berburu (berburu buaya, babi hutan, kasuari, lao-lao dll), mencari ikan di telaga dan sungai kecil serta membuat kebun-kebun kecil disekitar rumah dan ditepian telaga lokasi berburu.
Hubungan orang Papasena dengan alam sekitar mereka masih sangat kental dan murni. Mereka tinggal di tepi sungai-sungai kecil yang bermuara ke Mamberamo dengan hamparan hutan primer dataran rendah yang sangat luas hingga ke kaki pegunungan Foja.
Terdapat juga beberapa telaga-telaga besar menyerupai danau dan banyak sekali telaga-telaga kecil. Perahu adalah alat transportasi utama. Berburu buaya, mencari ikan dilakukan dengan menggunakan perahu. Begitu pula untuk dapat ke lokasi kampung terdekat harus menggunakan perahu.

Konsep tentang alam
Hutan, telaga dan sungai adalah sekolah yang membentuk karakter dan gaya hidup orang Papasena. Pandangan tentang alam atau igdopleauri sangat melekat dalam kehidupan mereka. Mereka memahami bahwa alam ini tidak bisa dipisah-pisahkan. Hutan atau Auwi tidak bisa hidup sendiri tanpa tanah, tanah tidak bisa hidup sendiri tanpa air, begitu pun sebaliknya. Sungai-sungai, telaga, manusia dan tumbuhan saling membutuhkan.
Bagi orang Papasena Hutan adalah dapur yang menyediakan berbagai jenis makanan, baik hewan maupun tumbuhan. Dalam sehari mereka dapat menangkap berbagai jenis hasil buruan dari hutan seperti kasuari, babi hutan, berbagai jenis burung, lao-lao, kuskus, tikus tanah dan lainnya. Selain binatang, hutan juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dengan mudah dapat diambil untuk dimakan. Sagu hutan (metroxilon sagu) atau pi auwiru dalam bahasa Papasena mudah diperoleh dan menjadi makanan pokok bagi orang Papasena. Dusun sagu atau pitayde banyak dijumpai di tepian sungai Mamberamo, sungai-sungai kecil, tepian telaga dan di sekitar kampung. Selain sagu, ubi hutan atau Awi, genemo, matoa dan buah-buahan hutan tersedia sangat melimpah untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Hutan juga adalah rumah bagi mereka. Kebutuhan hidup sehari-hari selain makan, diperoleh dari hutan disekitar kampung. Bahan untuk membuat rumah, perahu, kayu bakar, perkakas, bahan untuk berburu, bahan untuk ritual adat semuanya diperoleh dari hutan.
Selain hutan, tipe lahan yang sangat berperan penting dalam kehidupan orang Papasena adalah telaga atau karu. Buaya, ikan sembilang, ikan tawes, gabus, mujair, udang, kurakura tersebar banyak di telaga-telaga milik orang Papasena. Telaga sangat berperan dalam kehidupan ekonomi orang Papasena, di telagalah mereka bisa menangkap buaya yang menjadi komuditi unggulan bagi masyarakat di Mamberamo termasuk orang Papasena. Telaga-telaga milik orang Papasena tersebar cukup banyak, ada yang di tepi sungai Mamberamo, maupun yang terdapat di hutan yang jauh dari sungai Mamberamo bahkan di sungai-sungai kecil yang bermuara ke Mamberamo. Ukuran telaga-telaga ini bervariasi mulai dari yang kecil hingga yang besar bahkan menyerupai danau karena cukup luas dan besar.
Pemanfaatan telaga secara intensif oleh orang Papasena dilakukan ketika musim air surut. Sungai Mamberamo mengalami pasang surut dalam setahun sekali per enam bulan, yaitu enam bulan terjadi pasang dan surut enam bulan kemudian. Ketika terjadi air pasang, buaya dan hewan sungai lainnya tersebar ke telaga-telaga dan sungai-sungai kecil dan pada saat air sungai Mamberamo surut, banyak buaya yang terperangkap di telaga-telaga yang jauh dari sungai Mamberamo. Selain itu pada saat musim air surut terjadi
perkawinan sehingga jumlah buaya cukup banyak di telaga. Pada saat itulah masyarakat melakukan perburuan buaya untuk diambil kulitnya lalu di jual untuk memperoleh pendapatan.
Orang Papasena membagi tipe sungai menjadi dua yaitu kali besar atau akijori dan kali kecil atau ake. Sungai juga memainkan peranan penting bagi kehidupan orang Papasena. Sungai adalah ‘ibu yang memberi minum bagi orang Papasena. Kehidupan tanpa air adalah mati begitulah yang dianggap oleh orang Papasena. Baik sungai Mamberamo maupun sungai-sungai kecil tak henti-hentinya menyediakan air yang didalamnya hidup berbagai jenis hewan sungai seperti ikan, buaya, udang dan kura-kura yang menjadi
sumber makanan bagi mereka. Sungai juga adalah sarana transportasi yang menghubungkan orang Papasena dengan kampung sekitarnya bahkan ke luar daerah Mamberamo. Salah satu hal yang menarik dari manfaat sungai bagi orang Papasena adalah sungai sebagai penyedia kayu bakar. Tumpukan kayu yang hanyut disungai banyak dijumpai. Untuk mengambilnya dengan menggunakan perahu, atau ke tepian sungai dan mengumpulkan kayu-kayu tersebut untuk bahan bakar.
Kehidupan orang Papasena sangat bergantung kepada alam, terutama dalam pemanfaatan hutan, telaga dan sungai yang telah menyatu dengan mereka.

Zonasi adat
Pengetahuan orang Papasena akan akan pemanfaatan ruang cukup tinggi. Mereka membagi wilayah pemanfaatan secara tegas dan ditaati secara turun-temurun. Pembagian wilayah ini didasari dua hal. Yang pertama adalah alasan sejarah dan daerah sakral yang tidak boleh dimasuki untuk kegiatan pemanfaatan, baik yang dilakukan oleh masyarkat maupun orang luar. Alasan kedua adalah daerah dibagi berdasarkan kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup.
1. Aroki Arekapeake adalah “daerah larang adat” karena memiliki fungsi khusus yang berkaitan dengan ceritera rakyat, asal mula suku, tempat lindung saat situasi perang, tempat berkembang biak bagi hewan, sebagai dearah sumber air, dan memiliki bahan tambang mineral yang semuanya berguna bagi kepentingan masyarakat untuk masa kini dan masa depan Daerah ini terletak di bagian hulu sungai-sungai yang melintasi kampung dan berada tepat di bawah kaki pegunungan foja yang bermuara ke Sungai Mamberamo. Secara adat daerah dini dilarang untuk berbagai aktifitas yang merusak fungsi hutan. Karena daerah ini dianggap sebagai “daerah penyuplai” dan penyedia bahan makanan bagi orang Papasena.
2. Aiperera awikeidjua adalah wilayah dengan cakupan luasan tertentu yang ditutup berbagai bentuk aktivitas mencari makan ataupun mengambil kebutuhan lainnya pada wilayah tersebut. Daerah ini ditutup atas dasar orang yang memanfaatkan daerah (berkebun, berburu, menokok sagu) tersebut telah meninggal, dan ditutup hingga mendapat kesepakatan dari kaum keluarga dekat untuk dapat dibuka.
Batas-batas aiperara awikeidjua berdasarkan luas wilayah yang sering dimanfaatkan oleh orang meninggal dunia.
3. Aroki Areteari atau daerah Penyimpan adalah wilayah dengan luasan tertentu yang dibiarkan untuk sementara waktu dan pemanfaatannya dilakukan secral
bergilir. Penentapan aroki araeteari ditentukan oleh pemilik tempat secara adat.
4. Tataroki adalah wilayah tempat mencari makan. Tataroki atau tempat mencari makan ini dibagi menjadi daerah berburu, daerah berkebun dan daerah mencari ikan dan buaya.
Daerah berburu di tunjukkan dengan kemampuan masyarakat dalam menjelajahi hutan sepanjang satu hari pergi-pulang. Biasanya daerah berburu adalah kawasan
yang cukup luas disepanjang aliran sungai-sungai yang berhulu di kaki pegunugan foja.
Daerah berkebun adalah daerah disekitar lokasi kampung dan tepian sungai atau telaga terdekat yang dapat dijangkau. Sedangkan daerah mencari buaya dan ikan cakupannya sangat luas, sepanjang kepemilikan adat orang Papasena ditepian sungai Mamberamo yang mencakup sejumlah telaga-telaga dan sungai-sungai kecil didalamnya.

Monitoring wilayah
Menyadari akan luasnya wilayah dan melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki, maka orang Papasena mempunyai cara untuk menjaga dan memastikan aman tidaknya wilayah adat mereka. Monitoring tradisional atau traditional monitoring yang dimiliki oleh orang Papasena dilakukan secara including pada saat mereka melakukan kegiatan berburu, berkebun dan mencari buaya dan ikan di telaga dengan melibatkan komponen adat orang Papasena.
Kontrol terhadap wilayah “aroki arekapeake” dilakukan dengan membersihkan atau merawat tumbuhan terutama sagu yang tumbuh di sekitar daerah batas arekapeake. Yang melakukan kontrol adalah marga pemilik wilayah arekapeake. Biasanya mereka tinggal di daerah ini dengan jangka waktu 3-6 bulan lalu bergantian dengan sesama kaum pemilik wilayah arekapeake.
Sedangkan monitoring adat untuk daerah “tataroki” atau daerah mencari makan, terutama telaga, sungai dan lokasi berburu dilakukan secara bergiliran oleh semua kelompok masyarakat termasuk “igdowai” atau kepala suku dari tiap marga maupun kepala suku besar. Untuk lokasi mencari buaya dan ikan di telaga dan sungai, biasanya orang Papasena tinggal selama 1-3 bulan, lalu akan ada orang lain lagi yang bergiliran ke lokasi yang sama. Untuk lokasi berburu biasanya dilakukan tiap hari sambil berburu, atau ada yang bermalam 2-3 hari dan bergantian dengan orang lain.
Kemampuan alamiah dalam memantau wilayah adat orang Papasena ini telah berkembang secara turun temurun sehingga pemanfaatan wilayah atau zonasi adat yang telah disepakati dapat dijaga dan dipelihara. “Kami terbiasa melakukan hal ini karena
kami ingat anak cucu kami, supaya mereka juga dapat hidup dari alam ini” demikian kata Apolos Dude kepala suku besar atau “igdowai besar” kampung Papasena I. (Yoseph Watopa, Staff Conservation Internatioan Indonesia-Mamberamo Program)

Iklan
%d blogger menyukai ini: