Benarkah Untuk Kesejahteraan Masyarakat ?

Jubi- Proyek peluncuran satelit dan dampaknya terhadap masyarakat di Biak kelihatannya perlu dikaji secara mendalan. Pasalnya secara kasat mata proyek peluncuran roket di Bandara Internasional Frans Kaiesiepo di Biak sebenarnya merupakan suatu kegiatan dengan teknologi tinggi dan padat modal sehingga keterlibatan masyarakat secara langsung sangat tidak mungkin. Meskipun Bupati Biak Numfor Yusuf Maryen kepada wartawan di Biak mengakui bahwa rencana peluncuran satelit Rusia dengan menggunakan pesawat terbang melalui Bandara Frans Kaisiepo Biak merupakan kegiatan investasi yang memerlukan anggaran sangat besar dari investor. Andaikata program ini terwujud dengan baik lanjut Maryen akan menjadi momentum sejarah bagi semua komponen masyarakat di datanah Papua khususnya kabupaten Biak Numfor. ””Pemerintah daerah akan mendapatkan penerimaan anggaran pada sector pajak berupa tenaga ahli, retribusi daerah serta terjadinya peningkatan pendapatan bagi pelaku ekonomi setempat,” ujar Maryen sebagaimana diberitakan oleh Antara, 7 September 2007 di Biak. ”Lebih lanjut Maryen menambahkan penerimaan pendapatan asli daerah meningkatkan yang diperoleh dari rumah makan, hotel, mau pun jasa penjualan souvenir dan transportasi.”Manfaat lain kata Maryen adalah jika Biak dijadikan lokasi peluncuran satelit dengan menggunakan pesawat terbang Air Launch System (ALS) pada 2010 berteknologi tinggi yang dapat dipergunakan untuk pengenalan teknologi itu kepada siswa mau pun mahasiswa di daerah ini.
Senada dengan Maryen, Direktur Yayasan Pengembangan masyarakat Desa (YPMD) Papua Decky Rumaropen menambahkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Biak Numfor paling rendah di antara kabupaten dan kota di Provinsi Papua karena itu perlu adanya daya tarik bagi pemasukan daerah. Data Papua Dalam Angka 2006 mencatat hingga tahun 2004 sekitar 50.400 jiwa penduduk Kabupaten Biak Numfor tergolong miskin dan miskin absolute.
Sebagian besar penduduk asli di Biak adalah nelayan yang mengandalkan tambahan dari menjual hasil laut. Meski demikian, para nelayan di Biakmengakui kalau ikan lagi ramai di pasar terpaksa harga dijual murah. ”Karena itu menurut Decky Rumaropen, Pemda Biak harus menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi pengembangan wilayah Biak Numfor. Soal tanah adat menurut Rumaropen tokoh tokoh adat harus melakukan deal dengan pemerintah Rusia maupun Indonesia. Misalnya, kompensasi atas tanah adat adalah mengirim putra putra dari Papua dan khususnya dari Biak yang terbaik untuk belajar di Rusia tentang teknologi satelit dan science.
“Ini sebagai jaminan dari konsekuensi pembangunan proyek satelit Rusia karena bagaimana pun juga harus ada tanggungjawab moral bagi sumber daya manusia (SDM) di Papua khususnya di Biak Numfor,”ujar Rumaropen di Jayapura belum lama ini. Bagi dia pengiriman putra putra Papua terbaik untuk belajar teknologi tinggi sudah saatnya dan jangan ditunda-tunda lagi. ”Bukankah selama ini anak-anak Papua sudah menunjukan prestasi tertinggi seperti George Saa dan beberapa pelajar lainnya yang meraih gelar juara olimpiade fisika dan biologi. “Berilah kesempatan agar putra putra Papua belajar untuk menyumbangkan ilmunya bagi dunia dan kemanusiaan sehingga orang Papua bisa menjadi berkat bagi semua orang di dunia ini,” ujar Rumaropen yakin.”Menurut Rumaropen, kalau Dewan Adat Biak Numfor bisa deal untuk memperoleh peluang pendidikan itu lebih bagus. “Saya yakin semua orang pasti mau belajar ke luar negeri,” ujar Rumaropen seraya menambahkan ini hanya bisa terjadi kalau ada MoU antar masyarakat adat dengan pihak penyelenggara dari Rusia.”Memang tidak bisa disangkal, putra terbaik Papua memiliki prestasi gemilang di bidang ilmu pengetahuan fisika teoritis. Adalah almarhum Dr. Hans J. Wospakrik dosen fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil menembus jurnal ilmiah fisika tempat para pemenang hadiah nobel fisika menerbitkan karya-karya mereka pada jurnal berwibawa internasional seperti Phsysical Review D (1982 dan 1989), International of Mathematical Phsysics (2001 dan 2002), International Journal of Modern Physics(1991), serta Modern Physics Letters A (1986 dan 1989). Seluruh perjalanan fisikawan asal Papua ini bisa dibaca dalam buku karyanya berjudul ,”Dari Atomos Hingga Quark.” Sehingga bukan tidak mungkin jika akan lahir putra-putra terbaik Papua lainnya jika diberi kesempatan yang luas dalam memperdalam keilmuannya.”Jika Rumaropen menawarkan pengiriman putra Papua untuk belajar ke Rusia, sebaliknya para mananwir (para tokoh adat ) di Biak justru menilai peluncuran satelit dari Biak lebih banyak memberikan dampak negative karena berpotensi membuat masyarakat Biak semakin tersisih di atas tanahnya sendiri. Fakta selama ini menunjukan bahwa investor tidak pernah memperhatikan dampak-dampak sosial bagi masyarakat setempat. Buktinya masyarakat suku Amungme dan Kamoro baru memperoleh dana satu persen dari PT. Freeport yang telah puluhan tahun mengeruk kekayaan orang Amungme dan Komoro, setelah terjadinya pelanggaran HAM 1996 di Timika. Itupun setelah laporan pelanggaran HAM Timika diangkat oleh mantan Uskup Jayapura Herman Muninghoff yang dilanjutkan dengan demo mahasiswa di Jayapura dan Jakarta yang membuat PT Freeport mau berbicara dengan masyarakat Amungme dan Kamoro.
Mananwir Yusuf Manpioper mantan assisten bidang Pemerintahan menegaskan tokoh adat di Biak sepakat menolak klaim tanah PT Angkasa Pura I atas lokasi Bandara Frans Kaisiepo. “ Penelusuran dokumen hukum Bandara Frans Kaisiepo, Pangkalan TNI AU Munuhua dan Pangkalan TNI AL di Sorido dibangun di atas tanah ulayat,” ujar Yusuf Manpioper mantan Bestuur Wagete di Biak belum lama ini.
Sementara itu Kepala Bapedalda Provinsi Papua Joesph Wiro Watken menyikapi rencana Biak sebagai lokasi peluncuran satelit Rusia 2010 mengingatkan program berteknologi canggih itu perlu dilakukan pengkajian mendalam tentang dampak sosial kemasyarakatan dan dampak lingkungan fisik air dan udara yang kelak terjadi pasca peluncuran satelit. “Jika pelebaran dan perpanjangan Bandara Frans Kaisiepo kea rah timur dekat laut, sementara perpanjangan kea rah barat. Konsekewensinya penduduk di kota Biak harus dipindahkan ke tempat lain,” ujar Watken. Ditambahkan dampak social yang akan timbul adalah kebisingan pesawat mau pun polusi udara dikhawatirkan merusak ekosistem biota laut. Apalagi pulau-pulau Padaido sangat terkenal menyimpan terumbu karang dan biota laut yang terindah di dunia dapat tercemar nantinya. ”Sebenarnya ide menjadikan Biak sebagai bandara antariksa telah dipromosikan sejak lama sekitar 1980 an. Beberapa perusahaan swasta tampaknya berminat di antaranya E-Prime dari USA, sebuah perusahaan jasa peroketan dan keantariksaan. Menurut E-Prime prospek pulau Biak untuk peluncuran satelit cukup cerah. Tetapi sebelum terjun dalam bisnis antariksa harus terlebih dahulu dipelajari pasaran internasional khususnya di Asia dan Pasifik. (Suara Pembaruan, 3 Januari 1990).”Memang Pulau Biak memenuhi persyaratan karena pasar satelit kini berada di Asia dan Pasifik. Syarat penting untuk sebuah kawasan peluncuran satelit antara lain pertama sepi penduduk ; kedua di daerah khatulistiwa (ekuator) dan ketiga berada di dekat laut. Harus sepi penduduk karena merupakan daerah berbahaya tingkat tinggi.Jika jika roket meledak ketika masih ada di bumi atau ketika baru beberapa detik mengangkasa tentunya tidak akan menimbulkan bencana besar bagi penduduk. Harus dekat laut sebab roket yang sudah habis bahan bakarnya akan dilepaskan dan jatuh. Yang paling aman di laut yang juga harus sepi dari lalu lintas laut (Rusia Incar Biak, Moch S Hendrowijono, Kompas 19/12/2005). Menurut Hendrowijono dua modal Biak untuk menangguk keuntungan miliaran rupiah bisnis peluncuran satelit yaitu dekat garis khatulistiwa-garis imajiner yang menjadi lokasi orbit satelit sekaligus dekat samudera Pasifik. ”Selain itu, landasan pacu Bandara Frans Kaisiepo Biak merupakan peninggalan Perang Dunia Kedua yang pertama kali dibangun oleh tentara Jepang bersama masyarakat setempat kemudian dipakai tentara AS. Sewaktu jaman penjajahan Belanda maskapai penerbangan KLM Belanda memakainya sebagai salah satu bandara penting untuk penerbangan ke AS dan Tokyo serta Eropa. Panjangan landasan pacu sekitar 3.570 meter dan tidak pernah dilapis ulang sejak tahun 1961 membuat landasan pacu itu tidak pernah rusak. Landasan pacu itu mampu mampu menahan sampai 400 ton lebih. ”Lepas dari pro dan kontra sebaiknya perlu sosialisasi dan pemahaman yang baik sebab di sisi lain jelas masyarakat akan tersisih. Selain itu karena ini menyangkut bisnis milyaran dollar sehingga mau tidak mau aparat keamanan harus menjaga aset aset negara karena menyumbang pajak, dividen, dan menyerap tenaga kerja yang banyak.
(Dominggus A. Mampioper dari berbagai sumber)

Iklan
%d blogger menyukai ini: