Tambang Golongan C : Primadona Masyarakat Doyo Lama

Jubi – Mengais rejeki dalam memenuhi kebutuhan dan biaya hidup lain sangat dibutuhkan adanya ketrampilan, kerja keras serta keuletan dan yang tak kalah pentingnya adalah mampu melihat kedepan apakah usaha yang digeluti memiliki prospek atau nilai jual yang dapat diandalkan dalam mencapai keuntungan.

Namun salah satu kendala yang kerap dijumpai di masyarakat adalah saat mendapat kesempatan seringkali kesempatan tersebut tidak dipergunakan secara maksimal. Keuletan dan kesabaran yang menjadi penentu suatu usaha bisa bertahan atau tidak juga seringkali diabaikan. Akhirnya usaha tersebut terhenti untuk mencari alternatif usaha lain. Anehnya, setelah orang lain mampu memanfaatkan peluang yang ditinggalkan tersebut seseorang baru menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan atau membuang peluang yang begitu berharga. Hal ini disebabkan oleh keinginan atau tuntutan ekonomi yang tidak memungkinkan dan kian mendesak serta tidak adanya peran serta pihak-pihak terkait dalam memberikan masukan atau saran dalam mengelola maupun menciptakan lapangan pekerjaan.
Papua yang begitu kaya dengan berbagai sumberdaya alam dan hamparan tanah yang subur sangatlah berpotensi dalam pengembangan sektor pertanian maupun peternakan, namun kenyataannya masih sangat minim dimanfaatkan oleh masyarakat yang lebih cenderung pada kegiatan-kegiatan yang lebih cepat dalam memberikan pendapatan.
Marthen Yapo(32) salah satu dari sekitar 20 penambang pasir pasir dikali Siriaga kampung Doyo lama Distrik waibu Kabupaten Jayapura mengungkapkan kepada Jubi baru-baru ini kalau dirinya mengeluti profesi sebagai penambang pasir sejak menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah menegah pertama.Hal ini dilakukan karena mengingat tuntutan ekonomi yang semakin mendesak walaupun keinginan begitu besar setelah tamaat SMP pada tahun 1987 untuk melanjutkan sekolah pada jenjang diatasnya tetapi kemampuan orang tua sangat terbatas dalam membiayai pendidikannya, sementara kegiatan penambangan pasir belum dilakukan oleh masyarakat pada saat itu,” Seandainya usaha penambangan pasir ini sudah ada sejak saya dibangku sekolah SMP mungkin saya bisa berusaha mencari pasir sepulang sekolah dan hasilnya untuk dijadikan biaya pendidikan dimana pada saat itu untuk mendapatkan uang sangat susah dan tidak ada usaha lain” ujar Yapo. Selain itu usaha ini ditempuh oleh Yapo mengingat usaha semacam ini tidak terlalu membutuhkan modal yang besar serta keterampilan yang matang cukup dengan sekop serta gerobak namun sangat dibutuhkan tenaga yang ekstra.
Usaha Penambangan pasir di Kali Siriaga ini cukup mrmberikan peluang bagi Marhen beserta 20 rekan-rekannya yang lain. Namun menurut Marthen kegiatan penambangan pasir belum tentu dapat menjamin masa depan yang cerah.
“Pada saat kita masih kuat peluang untuk mendapatkan uang dari pasir yang ditambang tetap terbuka. Tetapi pekerjaaan semacam ini sangat rentan terhadap penyakit. Terutama malaria karena selalu bergelut dengan air. Selain itu sejauh mana usia kita mampu mengeluarkan tenaga untuk terus menjadi penambang pasir?” jelas marthen
Lebih jauh diungkapkan Marthen yang didampingi Ester selaku istrinya bahwa setiap hari dalam melakoni profesi sebagai penambang pasir banyak suka duka yang didapatkan terlebih pada saat musim hujan. Saat-saat seperti ini ada dua kemungkinan yang didapatkan, apakah pasir yang telah ditumpuk dapat dimuat oleh truk pengangkut pasir atau kembali kejalur yang semula kerena dihanyutkan kembali oleh air hujan. Sementara untuk memindahkan pasir-pasir yang telah dikumpulkan pada tempat yang aman tentu tidak dapat dilakukan, Namun hal ini sudah menjadi resiko dan harus tetap dijalani mengingat menjadi penambang pasir sudah merupakan sumber pendapatan utama keluarga Marthen
Berbagai hambatan yang ditemui oleh pasangan yang sudah dikaruniai 1orang anak bernama Ester (4) ini tidak membuat keduanya surut untuk berusaha terus. Marthen bersama istrinya tekun menambang pasir setiap harinya mulai dari pagi hingga matahari terbenam kearah barat. Di saat terang bulan, Marthen kerap melanjutkan aktivitasnya hingga jauh malam.
”Walaupun saya dan istri hanya Sebagai penambang pasir namun saya akan berusaha agar anak saya mampu sekolah dan tidak menjadi penggali pasir seperti yang saya lakukan. Saya berharap anak saya bisa menjadi suster . Paling tidak, ia mampu membantu ekonomi keluarga kami disaat-saat menjelang masa tua saya bersama istri” ujar Marthen yang disambut tawa dan penuh harapan istrinya.
Hasil yang didapatkan Marthen tidaklah terlalu mengecewakan. pasir yang didapatkan dijual seharga Rp. 120.000 ,-setiap ret. Harga ini masih dipotong 20.000 untuk disetor kepada pihak pemilik tanah serta untuk perbaikan jalan menuju lokasi.
Untuk penjualan pasir, Marthen bersama rekan-rekan penambang pasir lainnya berusaha berkordinasi agar ada aturan dalam lokasi mereka sehingga tidak ada sistim monopoli.
Dari hasil penambangan ini menurut Marthen, kalau cuaca bagus atau banyak pekerjaan proyek, ia bisa mendapat penghasilan bersih hingga 2 juta setiap bulannya. Namun kalau sedang musim hujan, kadang hanya sampai 1 juta. Bahkan seringkali tidak mencapai 1 juta. Bagi Marthen hasil ini dirasa cukup lumayan mengingat anaknya baru satu orang dan bersekolah di salah satu taman kanak-kanak di Doyo Lama sehingga belum membutuhkan dana yang besar untuk biaya pendidikan. Dari hasil penambangan ini Marthen berusaha menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk membangun rumah yang sekarang ditempatinya. Rumah berukuran 6 x 7 meter ini, walaupun masih sangat sederhana namun sangat membuat Marthen bangga karena merupakan hasil keringatnya bersama istrinya.
Marthen juga menyadari walaupun hasil yang didapatkannya selama ini cukup lumayan karena bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya namun hanya bersifat sementara waktu saja. Jika suatu saat pasir yang ditambangnya habis, tentunya ia harus bisa mempunyai pekerjaan lain untuk terus membiayai keluarganya. Dari hasil menambang pasir, Marthen menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya untuk membeli sepeda motor. Akhirnya, Marthen mampu membeli sebuah sepeda motor, meskipun dengan cara kredit. Ia kemudian menyewakan motor miliknya itu kepada orang lain untuk dijadikan ojek. Bagi Marthen, selain ia bisa mendapatkan keuntungan yang tidak terlalu besar karena harus membayar cicilan motornya itu, namun ia cukup puas karena bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Jika Marthen merasa sukup puas dengan pekerjaan menambang pasir yang ia lakukan, tidak demikian dengan Alex Yapo (45) yang juga menambang pasir di Kampung Doyo Lama. Alex yang juga kakak kandung Marthen mempunyai 7 orang anak. Dari ketujuh anaknya, satu orang telah berkeluarga sementara enam anaknya yang lain masih menuntut ilmu di bangku sekolah.
Alex berujar kalau apa yang dihasilkan sangatlah minim dan kerap tidak mencukupi. Walaupun Alex sudah cukup lama menjadi penambang pasir namun apa yang didapatkan semuanya untuk biaya hidup keluarga serta biaya pendidikan anak-anaknya. Hasil yang didapatkan Alex dari menambang pasir tidak jauh berbeda dengan apa yang di dapatkan oleh Marthen. Sehingga memang wajar kalau Alex merasa penghasilannya sangat kurang, mengingat jumlah keluarga yang cukup banyak. Namun Alex tetap bersyukur karena masih mampu bekerja demi menutupi biaya hidup keluarga serta biaya pendidikan anak-anaknya.
Keinginan Alex tidaklah jauh berbeda dengan Marthen. Yang penting bisa menyekolahkan anaknya dengan baik untuk mampu mandiri bahkan dapat membantu keluarga kelak.
“Uang yang saya dapatkan dari menambang pasir mudah-mudahan bisa membiayai anak-anak saya hingga selesai sekolahnya. Minimal hingga SMA agar bisa mandiri nantinya dan bisa membantu keluarga kami” ungkap Alex.
Keberadaan para penambang tentu sangat besar peranannya dalam kegiatan pembangunan sekarang ini. Seandainya para penambang pasir ini tidak ada bagaimana jadinya pembangunan dibidang infrastruktur yang sekarang semakin gencar dilakukan. Untuk itu Aleks berharap adanya suatu perhatian pemerintah bagi para penambang pasir demi kelancaran usaha mereka.
“Pasir yang kami hasilkan setelah dimuat menuju tujuan masing-masing baik untuk kepentingn proyek maupun pribadi tentu dikenai pajak di pos yang telah ditentukan pemerintah. Pajak ini merupakan pendapatan bagi pemerintah. Oleh karena itu sebaiknya ada perhatian pemerintah bagi kami, khususnya jalan-jalan menuju lokasi pinggiran sungai tempat penumpukan pasir. Pemerintah sudah seharusnya campur tangan untuk mempermudah truk-truk memuat hasil tambang kami” ujar Alex.
Hal ini akan sangat membantu para penambang pasir untuk meningkatkan daya jual dan pendapatan yang mereka peroleh karena para sopir truk tentu akan berupaya mencari lokasi-lokasi yang lebih mudah dan aman untuk dijangkau kendaraannya dalam memuat pasir.
Lebih jauh diungkapkan Alex bahwa perbaikan jalan masuk lokasi penambangan mereka selama ini sering dilakukan secara bersama-sama oleh para penambang dilokasi tersebut. Namun pada saat musim hujan jalanan ini rusak kembali karena pengaruh muatan yang cukup berat sementara mereka tidak tahu bagaimana caranya meminta bantuan kepada pihak pemerintah agar hasil-hasil tambang merka dapat di angkut dengan lancar sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka. (Yunus Palelo)

%d blogger menyukai ini: