Menjaga Potensi Laut Di Raja Ampat Dengan Kearifan Lokal

JUBI – Sejak dahulu masyarakat kepulauaan Raja Ampat menangkap ikan dengan teknologi tradisional seperti kalawai atau penikam. Mereka juga membuat kerambah dari kayu, yang dibuat melingkar atau memanjang, dengan berliku – liku dan dirancang seperti tempat yang senang di datangi oleh ikan – ikan.

Sehingga ketika ikan telah berada di dalam kerambah pada saat air pasang, ikan – ikan tersebut tidak dapat keluar ketika air surut. Kemudian ikan-ikan ini ditangkap oleh para nelayan dengan serok atau tangguk yang dibuat dari jaring/ jala yang telah di jahit.
Satu hal lagi yang sering di pakai adalah dengan cara molo atau menyelam dengan alat senapan yang dirancang kusus untuk menembak ikan yang dibuat dari kayu dan kawat sebagai penikam yang dapat dilontarkan dari senapan. Para pemolo ini di lengkapi dengan kaca molo atau kaca selam untuk melindungi mata.
Ada keunikan lain yang sering kita jumpa di kepulauan Raja Ampat antara lain, memancing dengan kail tanpa umpan yang sering disebut dengan istila bacigi. Hal ini dilakukan pada ikan yang berkumpul dalam jumlah besar dan padat mulai dari pertengahan laut sampai di permukaan kulit air sehingga mudah di kait dengan kail kosong.
Keunikan lainnya adalah dalam menangkap ikan pada malam hari. Biasanya, masyarakat di kawasan teluk Mayalibit, kampung Lopintol, hanya menggunakan lampu gas ( petromaks) untuk mengajak ikan dalam jumlah besar ke tepi pantai lalu di timba dengan serok atau tangguk yang dibuat dari jala atau jaring. Masyarakat di kampung ini juga melakukan lobe malam.
“Kami menggunakan lampu gas (petromaks) dengan perahu dayung serta alat penikam atau dengan parang bila jalan kaki menyusuri air surut atau yang sering disebut air meti malam.” jelas Yosua (43), seorang warga kampung Lopintol.
Ada beberapa cara yang lazim digunakan oleh hampir seluruh masyarakat Papua yang tinggal di pesisir pantai dan pulau – pulau. Yang paling sederhana dan biasa dilakukan adalah menggunakan perahu dayung dan alat pancing seperti tali pancing atau nelon, kail dan timah sebagai pemberat untuk memancing ikan di dasar laut. “Selain itu ada juga cara tunda untuk jenis ikan tuna/cakalang dan tengiri yang menggunakan umpan dari tali rafia yang di haluskan dan dipasang pada kail dengan cara di ikat.” ujar Sefnat, warga kampung Lopintol lainnya yang sering mencari ikan sampai ke tengah laut lepas.
Cara – cara seperti ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang cara penangkapanya sangat ramah lingkungan dan tidak merusak laut. Selain cara-cara tradisional tadi, masyarakat Papua juga memiliki budaya sasi yang sering dipakai untuk jenis ikan yang mempunyai nilai jual tinggi. Selain ikan, sasi juga diberlakukan pada beberapa jenis siput atau kerang, dan lobster dalam jangka waktu tertentu.
“Misalnya , dalam satu (1) tahun ikan, udang dan beberapa jenis kerang ini tidak boleh ditangkap. Dengan cara seperti ini jenis ikan , kerang lola, pea – pea , udang Lofster, teripang dapat berkembang biak dalam jumlah besar dan siap dipanen pada waktu tertentu yang telah di tentukan.” terang Abner Korwa, aktivis LSM yang juga seorang antropolog.
Budaya Sasi dikenal sebagai suatu aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama yang kemudian dinasar dan dibuat larangan yang berlaku terhadap seluruh penduduk kampung selama jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Setelah batas waktu yang di tentukan selesai barulah di buat musyawarah bersama untuk memutuskan apakah hasil laut yang tadinya telah di sasi boleh di panen atau di tangkap oleh masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar populasi jenis ikan, kerang, udang dan teripang dapat berkembang biak dengan jumlah yang besar sehingga tetap terjaga dan tidak punah. (Charles Tawaru/Victor Mambor)

%d blogger menyukai ini: