Danau Yang Diseberangi Teipasaka Itu…

Konon, danau yang diseberangi oleh Teipasakan adalah Danau yang sekarang dikenal sebagai danau Sentani. Danau yang terletak dibawah kaki pengunungan Clycloop ini berada di wilayah Kabupaten Jayapura dan sejak tahun 1987 ditetapkan melalui Kepmenhut no 365/KPTS-ii/1987 termasuk cagar alam pengunungan Clycloop. Danau yang luasnya sekitar 25,5 km atau 9.630 ha dari timur ke barat dengan kedalaman rata-rata 50 sampai dengan 71 meter dikunjungi pertama kali oleh William Doherty, yaitu pimpinan tim penyelidik ilmiah dari kerajaan Inggris pada tahun 1892. Danau ini menyimpan berjuta biota yang hidup didalamnya seperti Gabus toraja (gastor), ikan mujair, ikan mas, ikan lele jumbo, ikan nila, ikan gurami dan ikan gabus sentani.
Menurut pendapat tua-tua adat setempat nama asli danau sentani sebenarnya “ Puyakha, Puyakhapu”. Puyakha dalam bahasa sentani artinya ciri nyata sedangkan puyakhapu artinya kawasan danau, air yang di miliki dan di kuasai oleh puyakha. Sedangkan perkataan Sentani berasal dari kata “hedam” yang diubah menjadi “setam” dan kemudian menjadi Sentani. Kata hedam masih kita jumpai pada Ondofolo Suku Ohei. Nama Puyakha ini diberikan karena dalam sejarah mitos terjadinya danau ini, bermula dari usaha pembelian air jernih di gunung Dobonsolo oleh dua orang leluhurnya yang berdiam di pilau Yonokhom.
Masyarakat asli yang tinggal dipinggiran danau sentani sejak nenek moyang sampai saat ini menganggap air danau sentani tetap bersih dan jernih. Mereka sering meminumnya walau kadangkala tidak di masak.
Kini penduduk yang mendiami sekitar danau sentani sudah menyebar ke seluruh danau dan dataran Dobonsolo. Pada mulanya penduduk Sentani berpusat di tiga tempat atau pulau induk yaitu : pertama, di bukit Yomokho kemudian ke pulau Ohei denga kampung Asei. Menyebar ke Ayapo, Asei Kecil, Waena dan Yoka; kedua, pulau Ajau dengan kampung Ifar Besar. Menyebar ke Ifar Kecil, Siboiboi,Yabuai, Sereh, Puyoh Besar, Puyoh Kecil Ifar Babrongko dan Abar; ketiga, Pulau Yonokhom dengan kampung Kwadeware, menyebar ke Doyo, Sosiri, Yakonde dan Dondai.
Masyarakat yang tinggal disekitar perairan danau sentani mengantungkan hidupnya pada hasil tanggkap ikan yang ada di danau tersebut dan menjualnya di pasar Sentani. Sementara orang tua menangkap ikan dengan memancing dan buang pukat, anak-anak juga belajar nenangkap ikan dengan jaring tradisional yang di sebut dalam bahasa Sentani “ felefale”, atau mereka juga belajar memakai panah untuk membidik ikan.
Di danau sentani sekarang ini sudah banyak dibangun tempat wisata, untuk melihat keindahan danau Sentani. Salah satuadalah Pantai Yahim. Menurut Noak Fele (46) Yahim berasal dari kata Yagwe, Hilinai, Melanai sebenarnya bukan pantai tetapi pelabuhan kecil yang dibuat oleh dinas perhubungan untuk tempat transit bagi masyarakat yang tinggal diseberang danau seperti kampung Yoboy, Simpora, Babrongko, Kameyake, Abar, Atamali, Utali, Obong, Iyale, Yobe, dan Ifar besar. Jasa angkutan danau bukan hanya untuk penyeberangan orang kampung untuk berjualan tapi juga bermanfaat untuk alat transportasi anak-anak pergi ke sekolah. Motor boat/perahu kole-kole yang terbuat dari kayu dengan kapasitas penumpang 15 orang dikelola oleh masyarakat asli Sentani dengan biaya transportasi pergi-pulang Rp. 1.000,-. Biasanya, pada hari libur atau hari minggu pantai Yahim banyak dikunjungi oleh masyarakat Jayapura bahkan turis mancanegara karena keindahan alam yang masih alami serta burung bangau yang masih terlihat. (Carol Ayomi)

Iklan
%d blogger menyukai ini: