Dana Otsus Untuk Pendidikan : Bagai Pungguk Merindukan Bulan

JUBI – Jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00 WP disaat kegelapan masih menyelimuti bumi Papua. Dari kejahuan terlihat kabut putih masih menyelimuti kawasan bumi perkemahan (buper) Waena dibawah kaki gunung Clyclop. Tapi itu tidak mengetarkan semangat juang ibu empat ini untuk menabrak dinginnya udara pagi yang terasa nyeri menusuk tulang-tulangnya.

Tujuan perempuan ini hanya satu, membeli buah salak, ketimun dan daun ubi di pasar Youtefa lalu menjualnya kembali diseberang badan jalan raya Abe-Sentani yang persis berhadapan dengan Museum Budaya Papua.
Terina Enubi (40) dan almarhum suaminya Yosua Tabuni hijrah dari Kabupaten Puncak Jaya, tiga belas tahun yang lalu menuju Kota Bagi suami istri ini, pindah ke Jayapura bukan sekedar mengadu nasib. Tapi juga agar ketiga anaknya mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana anak-anak kota pada umumnya.

Minus, Deki dan Uli Tabuni lahir di Pucak Jaya. Memasuki tahun pertama di Jayapura, tepatnya tahun 1995 si bungsu, Misi Tabuni lahir disebuah gubuk kecil di kawasan bumi perkemahan Waena. Dua tahun kemudian si bungsu, Yosua Tabuni yang juga lahir di Jayapura mendadak jatuh sakit dan pada akhirnya meninggal dunia karena terserang penyakit malaria. Suami Terina sendiri, meninggal sepuluh tahun silam.
Guna membantu ekonomi keluarga serta membantu ibunya untuk menyekolahkan kedua kakak dan adik bungsunya, Ulin Tabuni (18), satu-satunya anak perempuan yang dimiliki Terina memutuskan untuk tidak bersekolah lagi. Sejak kematian ayahnya Ulin Tabuni membantu mamanya berjualan buah salak, ketimun dan sayur daun ubi. Sesekali ia juga menjual pinang
Saat Jubi sedang berbincang dengan Terina Enubi, datang seorang pria yang menggunakan sepeda motor. Pria tersebut menanyakan harga buah salak kepada Terina Tabuni.
“Mama, salak de pu harga berapa.”
”Harga salak yang ini lima ribu saja.” jawab Terina Tabuni sambil menunjuk tumpukan salaknya. “Bo….mama mahal sekali, bisa kurang ka? Tiga ribu sudah e…,” tawar pria tersebut.
Keduanya kemudian saling tawar menawar. Tak lama kemudian, keduanya sepakat harga salak tersebut sebesar empat ribu rupiah.
Tanpa ragu-ragu lagi Terina Enubi segera mengambil kantung plastik didalam nokennya lalu mengisi buah salak tersebut kemudian menyerahkannya kepada pria tersebut. Sambil tersenyum kecil pria tersebut bergegas meninggalkan tempat jualan tersebut.
Untuk mendapat barang jualan yang dibeli dari para penjual di Pasar Yotefa, Terina Enubi harus mengeluarkan modal sebesar 100 ribu rupiah. Keuntungan yang didapatkan setiap harinya berkisar antara Rp. 35.000 – Rp. 50.000,- setiap harinya. Untuk mendapatkan keuntungan sejumlah tersebut, ia harus berjualan mulai dari matahari belum menampakkan cahayanya sampai dengan masuknya matahari disebelah barat.Baginya, hasil penjual tersebut dianggap sudah cukup untuk menyekolahkan ketiga anaknya dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kadang kala, jualannya tidak habis terjual dan akhirnya menjadi busuk sehingga terpaksa harus dibuang. Tapi bagi ibu yang tidak mengenal istilah menabung ini berhasil menyekolahkan kedua anak laki-lakinya hingga sekarang duduk di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota Jayapura merupakan kebanggaan tersendiri. Ia berharap, semua anak-anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Ia juga tetap bersyukur kepada Tuhan karena masih dapat menjaga dan memelihara anaknya tanpa didampingi oleh suaminya lagi.
Tak berbeda jauh dengan Terina Tabuni, Yamira Wenda (30) yang berasal dari daerah pedalaman Papua, Kampung Karubaga, Kabupaten Jawawijaya juga telah berjualan selama tiga tahun di depan kompleks Expo Waena. Namun berbeda dengan Terina, Yamira berjualan jagung bakar. dari pagi sampai malam.
“Jagung yang saya jual selama ini diperoleh dari pasar Youtefa. Satu karung ukuran 50 kg, harganya 100 ribu rupiah.” jelas Yamira Wenda yang menikah dengan Elpis Kogoya(35) dan telah dikarunia seorang anak yang diberi nama Anton Kogoya (3).
Setiap hari, jagung bakarnya terjual habis dengan harga tiga ribu rupiah untuk jagung besar dan dua ribu rupiah untuk jagung yang berukuran kecil. Dari berjualan jagung bakar ini, Yamira mendapat pemasukkan bersih 200 ribu rupiah.
Sedangkan pekerjaan suaminya sehari-hari bertani menanan ubi/petatas. Memasuki musim panen barulah hasilnya akan dijual didepan Expo Waena. Tak jauh dari Terina dan keluarganya, Yamira Wenda beserta suami dan anaknya juga tinggal dikawasan Bumi Perkemahan Waena.
Keluh kesah mereka
Selama mereka berjualan didepan Expo Waena banyak suka duka yang mereka alami. Terkadang jika mereka hendak ke Pasar Youtefa untuk membeli bahan jualan, mereka tidak mendapatkan taksi karena masih terlalu pagi. Kalaupun ada, tak jarang taksi-taksi yang lewat tidak mau mengangkut mereka. Selain itu, jika hujan turun dalam satu hari pembeli sangat jarang sekali sehingga akhirnya mereka merugi. Sedangkan cerita sukanya adalah saat jualan mereka laku semua karena cuaca cerah yang mendukung. Dengan demikian, mereka dapat meraih keuntungan maksimal yang tentunya sangat membahagiakan mereka walaupun mereka berjualan diatas tanah dan beralaskan karung plastik.
Kedua perempuan ini bukan tidak ingin berjualan di pasar resmi seperti pasar Youtefa. Namun keduanya menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan yang seimbang dengan pedagang lainnya di pasar Youtefa. Setidaknya, dibutuhkan modal dagang yang kuat agar dapat bertahan selama beberapa waktu sebelum mendapatkan pelanggan atau pembeli. Berdagang di pasar seperti Youtefa bukanlah tempat yang cocok untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab di pasar tersebut terdapat juga pedagang besar yang mampu menjual dagangan mereka dengan harga yang sangat murah. Jika tak mampu bersaing dalam harga, maka pedagang kecil seperti Terina dan Yamira pastilah akan terhempas. Setidaknya inilah yang membuat keduanya tidak peduli kalau suatu saat ada Dinas Trantib Kota Jayapura yang mengusir mereka dari pinggir jalan atau trotoar tempat mereka berjualan selama ini.

Sangat mengharapkan
Terina Enubi sangat merindukan supaya anak perempuannya Ulin Tabuni dapat bersekolah lagi walaupun harus mengikuti ujian paket dan kedua anak laki-lakinya dapat menyelesaikan kuliahnya. Terina Enubi, tidak tahu sampai kapan bisa bertahan hidup membiayai ketiga anaknya yang bersekolah sedangkan biaya kuliah di kampus swasta sangatlah mahal dan ditambah lagi dengan anaknya bungsunya yang bersekolah di SMP. Mengenai dana Otsus untuk pendidikan, ibu keempat anak tidak berharap sama sekali.
“ Saya sendiri tidak tahu apa itu dana Otsus,” tutur Terina Enubi. Kalaupun tahu, bagi salah satu dari sekian perempuan hebat di Papua ini, dirinya dan dana Otsus ibarat pungguk merindukan bulan. Dana Otsus tak akan pernah bisa sampai pada anak-anaknya, sekalipun anak-anaknya adalah orang asli Papua yang berhak atas dana tersebut. (Carol Ayomi/Dominggus Mampioper)

%d blogger menyukai ini: