Awas! Rokok Ilegal Di Biak

JUBI – “Rokok pertama di Papua yang memiliki sensasi rasa beragam dengan tembakau pilihan sekelas dengan rokok merek lain. Pinang Mas Rokok bermutu nasional dengan cita rasa berbudaya internasional, layak menjadi pilihan anda.”

Kalimat ini tertera pada kemasan rokok yang belakangan ini menjadi perbincangan masyarakat di Kota Biak. Kemasan rokok tersebut berwarna dasar putih. Bagian luar dari kemasan rokok tersebut terdapat gambar patung karwar dan ditengah nampak sebuah pinang. Batang rokoknya persis seperti rokok mild/mentol produksi pabrik rokok ternama di Indonesia. Satu bungkus Rokok Pinang Mas ini berisi 16 batang. Pada kemasan rokok ini tertera bahwa rokok Pinang Mas ini diproduksi oleh Panji Insani Group (PIG) Indonesia sejak tahun 2006. Tentunya, ini merupakan rokok pertama yang diproduksi di Papua dan menggunakan corak Papua dalam kemasannya. Hanya saja, kehadiran rokok Pinang Mas ini meresahkan masyarakat karena meskipun diketahui produsennya adalah Panji Insani Group, namun dimana pabrik rokok ini berada sangat tidak jelas. Sumber-sumber di Dinas Pendapatan Daerah kabupaten Biak Numfor mengaku bahwa saat mencari nama PIG dalam daftar akte perusahan di Biak Numfor pada dokumen Dispenda ternyata PIG yang mengelola RPM tidak terdaftar di Biak Numfor. Sejauh ini, di Biak Numfor hanya terdapat 3 agen rokok resmi yakni ; 1. Agen rokok Sampoerna (toko Irian, Biak), 2. Agen rokok Gudang Garam (CV. Aman Jaya, Biak) dan 3. Agen rokok Djarum (Maju Makmur, Biak).
Menurut beberapa warga masyarakat kota Biak, rokok Pinang Mas ini telah beredar sejak tahun 2006. Tepatnya kapan, masyarakat tidak banyak yang tahu. Sebab peredaran rokok Pinang Mas ini tidak seperti rokok lainnya yang melalui agen-agen resmi melainkan diedarkan dari tangan ke tangan. Mbok (81) asal Jawa Timur (Surabaya) pemilik rumah makanan Arias di sekitar kompleks Opsi mengaku bahwa ia diberikan rokok Pinang Mas untuk dijual oleh seseorang. Siapa orang tersebut, sama sekali tidak diketahuinya.
“Saya dikasih orang Rokok Pinang Mas ini untuk tolong dijual. Dimana pabriknya, saya memang tidak tahu.” jelas perempuan yang sudah lama mengelola rumah makannya ini (24/8). Nampak didalam lemari kaca tempat menghidangkan bermacam menu rumah makannya, dua slop rokok Pinang Mas diletakan disana. Menurut perempuan pemilik rumah makan ini, rokok Pinang Mas biasanya disebut rokoknya orang Papua. Ia menjual rokok ini seharga Rp. 5.000,- perbungkus. Harga ecerannya Rp. 500,- perbatang.
Informasi yang di peroleh JUBI dilapangan tentang peredaan rokok tersebut sebagian besar mengatakan bahwa rokok tersebut dibagikan kepada pemilik kios dengan tidak menyebutkan siapa pemiliknya. Beberapa warga masyarakat juga mengaku bahwa mereka pernah dikasih untuk menghisap rokok tersebut. Rasanya memang seperti salah satu rokok Mild, namun Pinang Mas terasa lebih keras.
Dari pantauan Jubi, rokok ini memang tidak dijual di toko-toko besar atau grosir. Pemilik toko Javaco di jln Imam Bonjol, mengaku tidak mengetahui tentang adanya rokok Pinang Mas. “Saya tidak tahu ada rokok Pinang Mas. Apakah itu rokok baru?” tanyanya. Ia sama sekali tidak tahu jika rokok tersebut telah beredar di Biak sejak tahun 2006.
Yan Pieter Yarangga, Ketua Dewan Adat Byak mengaku pertama kali mendapatkan rokok Pinang Mas tersebut tahun 2006. Bahkan, menjelang peresmian kantor Dewan Adat Byak (DAB) rokok Pinang Mas tersebut dibagi-bagi secara gratis kepada masyarakat.
“ Pada Tahun 2006 seorang memberikan satu slop rokok Pinang Mas itu kepada saya. Tetapi saya bakar rokok tersebut. Aneh bin ajaib, sedikitnya dua tahun RPM beredar di Biak, tapi tidak jelas dimana pabriknya. Lalu siapa yang ijinkan rokok ini beredar di Biak? Apakah pemda Biak Numfor? Mengapa rokok Pinang Mas yang belum terdaftar ini distribusikan dan dibagi-bagi gratis? Rokok yang kadaluarsa kalau dijual, pasti ada dampak negatifnya.” terang Yan Pieter Yarangga. Ia juga menambahkan, kalau memang pabrik rokok tersebut jelas keberadaanya, pastilah akan ada sosialisasi dari pabrik mengenai rokok tersebut. Namun sampai saat ini, tidak seorangpun yang tahu siapa produsen dan agen rokok tersebut. Sehingga dikhawatirkan jika terjadi hal-hal buruk pada orang yang mengkonsumsi rokok tersebut, semisal keracunan, sakit atau mengakibatkan kematian, tidak ada pihak yang bertanggungjawab.
Ketua Dewan Adat Byak ini menganggap pemerintah kabupaten Biak Numfor harus bertanggung jawab terhadap peredaran rokok Pinang Mas ini. Sebab rokok ini telah beredar cukup lama di Biak sehingga Pemerintah Daerah seharusnya tahu dan mengambil langkah-langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat Biak dari produk-produk yang tidak jelas produsennya. Ia juga beranggapan bahwa jika sebuah produk beredar di satu wilayah, tentunya harus seijin pemerintah daerah setempat.
Secara terpisah, Albert Aibekob anggota komisi II DPRD Biak Numfor bidang ekonomi, pembangunan dan keuangan dan industri, juga mengaku baru tahu tentang adanya rokok Pinang Mas dari seorang kader partai politik di Biak.
“Saya baru tahu saat rokok tersebut ditunjuk oleh teman kader salah satu partai politik di Biak. Setelah saya amati, ternyata rokok tersebut tidak ada lambang cukainya. Apakah perusahaan produsen rokok tersebut memberikan kontribusi ke daerah (Biak Numfor) atau tidak, jadi tidak jelas karena tidak ada cukainya tadi. Selain itu, kapas rokoknya (filter) berwarna kehitaman.” tandas Aibekob. Ia mencurigai rokok tersebut memang kadaluarsa dan sengaja diedarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia juga berpendapat bahwa rokok tersebut ilegal karena sejak 2006 hingga 2007 rokok tersebut beroperasi tidak ada lambang cukai nya.
“Dewan akan mengundang dinas-dinas terkait untuk mencari langsung perusahaan distributornya. Kami akan turung langsung ke lapangan sekaligus meminta dinas terkait untuk seriusi hal tersebut.” tegas kader PAN Aibekob.
Kepala dinas kesehatan kabupaten Biak Numfor Drs. Sefnath Korwa, MS, saat dikonfirmasi oleh Jubi, Selasa (28/8), mengaku tidak tahu bahwa rokok Pinang Mas selama ini beredar di Biak.
“Sebagai kepala dinas kesehatan di Kabupaten Biak, saya baru tahu dari wartawan kalau rokok Pinang Mas beredar di Biak. Saya juga tidak tahu rokok tersebut diproduksi dimana dan siapa produsernya. Aneh, rokok tersebut bisa beredar di Biak.” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor ini saat Jubi menunjukkan dua buah simpel rokok Pinang Mas. Ia juga menyayangkan staf-stafnya di Dinas Kesehatan yang tidak mengetahui peredaran rokok tersebut hingga bisa lolos dijual kekios-kios di Biak. Karena rokok tersebut telah beredar di sekitar kota Biak, ia menghimbau agar masyarakat masyarakat berhati-hati untuk beli rokok, makanan dan minuman.
“Saya akan perintahkan staf saya untuk segera melacak asal rokok tersebut.” tegas Drs. Sefnath Korwa.
Penegasan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor ini benar-benar dibuktikannya. Karena sore harinya (Selasa, 28/8), Kasubdin Bindal POM Dinas Kesehatan Biak Numfor, Drs Suryadi Haruna, Apt, langsung turun lapangan untuk menyusuri keberadaan rokok Pinang Mas tersebut.
“Saya lihat barang ini (rokok pinang mas-Red) ilegal. Alasannya karena rokok tersebut tidak mencantumkan beacukai tembakau. Tidak ada pajak tanpa prangko negara. Hal ini sangat merugikan negara.” jelas Kasubdin Bindal POM Kabupaten Biak Numfor ini.
Ia juga mengatakan bahwa berdasarkan UU Perlindungan Konsumen No 8 tahun 1999 sangat jelas bahwa produsen rokok tersebut telah menipu konsumen. Salah satu buktinya adalah harga yang tertera di bungkus rokok tersebut.
“Di kemasan rokok tersebut ditulis harga promosi Rp 5200. Kalau promosi, mengapa dijual ini kan sudah melangar aturan sebenarnya.” jelas Drs. Suryadi Haruna.
Ia juga merasa aneh dengan kandungan Tar dan Nikotin yang tertulis di kemasan rokok tersebut. Menurutnya, jika rokok itu diproduksi di Biak, dari mana produsennya mengukur kadar Tar yang 1,0 Mg dan Nikotinnya yang 13 Mg. Sebab di Biak tidak ada alat pengukur kadar nikotin dan Tar yang terkandung dalam produk rokok. Pihak Subdin Bindal POM Dinkes Biak akan memeriksa kandungan apa saja yang ada dalam rokok Pinang Mas tersebut.
Rabu (29/8), Suryadi Haruna memimpin rombongan Dinas Kesehatan Biak Numfor bersama pihak Polres Biak Numfor turun lapangan untuk mengamankan rokok Pinang Mas yang telah beredar. 15 bungkus rokok Pinang Mas disita dari kios Baruko Samofa. Selain rokok Pinang Mas, sejumlah barang kadaluarsa lainnya juga disita. Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinkes Biak Numfor dan Polres Biak Numfor masih menyusuri tempat-tempat yang diduga menjual rokok Pinang Mas. (Paulus Kafiar/Victor Mambor)

Iklan
%d blogger menyukai ini: