16 Tahun Foker LSM Papua

JUBI – Jumat, 31 Agustus 2007, Foker LSM Papua genap berusia enam belas tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah forum kerjasama antar LSM yang biasanya sangat sulit untuk dirawat.

Sebab terbukti, beberapa Forum Kerjasama antar LSM yang digagas bertahun-tahun lalu tak jauh berselang sebelum dan setelah didirikannya Foker LSM Papua pada akhirnya harus bubar. Dan sampai saat ini, hanya Foker LSM Papua yang masih terus berkiprah sebagai sebuah forum kerjasama antar LSM di Indonesia. Selain itu, sebagai organisasi jaringan, Foker LSM Papua merupakan organisasi jaringan terbesar di Indonesia dengan 64 partisipannya. Tentu saja ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kalangan LSM di Papua. Dan bagi orang Papua, ini bisa mematahkan anggapan bahwa orang Papua sangat sulit untuk bekerjasama.
Ibarat manusia, usia enambelas tahun merupakan usia yang sangat rawan. Usia akil balik yang kadangkala membuat seseorang ingin mencoba sesuatu yang dirasakan sangat menantang.
“Suatu saat, seseorang terkejut karena tiba-tiba ia melihat ada bayi yang terjatuh ke dalam sungai. Segera ia masuk ke sungai dan menyelematkan bayi tersebut. Tak lama kemudian, kembali seorang bayi terjatuh ke dalam sungai. Ia menyelamatkan lagi bayi tersebut dari dalam sungai. Tapi, bayi lainnya terjatuh lagi, terus dan terus terjatuh ke dalam sungai. Orang tersebut menjadi sibuk untuk menyelamatkan bayi-bayi yang terjatuh dalam sungai, sehingga tak sempat melihat ke atas sungai. Ia tak tahu dan tak menyadari bahwa seseorang sedang melemparkan bayi-bayi tersebut ke dalam sungai.” ujar Yuvenalis Ledang, ketua SC Foker LSM Papua, menggambarkan apa yang sedang dan akan dialami oleh Foker LSM Papua selama ini. Menurut Yuvenalis yang juga direktur YPLHC ini, di usia seperti sekarang ini, Foker LSM Papua akan menjadi sangat sibuk untuk mencari solusi berbagai persoalan masyarakat sipil di Papua. Kesibukkan tersebut bisa membuat Foker LSM Papua lupa untuk melihat dan mencari dimana sebenarnya akar persoalannya.
“Sesekali, orang tersebut harus keluar dari sungai untuk melihat dan menghentikan orang yang terus menerus melemparkan bayi ke dalam sungai.” ujar Yuvenalis dalam peringatan HUT Foker LSM Papua ke-16 di sekretariat Foker LSM Papua.
Matius Murib dari Kontras Papua, dalam acara Refleksi Kerja Foker LSM Papua di Pantai Base G (Sabtu, 1/09) mengatakan bahwa jika selama ini dikatakan Foker LSM Papua sebagai lembaga kerjasama, masih harus dipertanyakan kembali kerjasama seperti apa yang telah dan akan dilakukan. Sebab kenyataanya selama ini masih terlihat masing-masing lembaga dan bahkan Foker LSM Papua bekerja sendiri-sendiri tanpa kordinasi.
“Kalau dikatakan Forum Kerjasama, kerjasama seperti apa dan bagaimana kerjasama tersebut yang harus dipastikan. Selama ini, masih terkesan masing-masing ingin menjadi leader dalam aktivitas masyarakat sipil di Papua.” tegas Matius.
Bagi partisipan Foker LSM Papua yang berada di Regio Teluk Cenderawasih, selama ini kiprah Foker LSM Papua telah cukup diperhitungkan oleh stakeholders karena kajian, dan kritis atas kebijakan – kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.
“Tetapi kita juga harus jujur bahwa masih banyak rakyat di tanah Papua yang belum mengetahui siapa itu Foker LSM dan apa yang dibuatnya untuk mereka? Tentu ini suatu tantangan bagi Foker LSM dan partisipannya untuk lebih serius dan fokus bekerja bagi masyarakat yang masih terpinggirkan dan tercecer dari arus dan proses pembangunan.” tulis Izak Matarihi, dalam suratnya kepada Sekretariat Foker LSM Papua yang khusus dibuat dalam rangka HUT Foker LSM Papua ke-16.
Acara Refleksi dalam memperingati HUT Foker ke-16 di Pantai Base G ini selain dihadiri oleh staff Sekretariat Foker LSM Papua, juga dihadiri oleh partisipan dan mitra Foker LSM Papua di Jayapura antara lain KKW, YPLHC, YPKM, AlDP, PKBI, Yapembra, Kontras Papua, LBH Papua, Tabloid Jubi, PBI, KIPRa, LP3A, Inai Jaunggi, dan Yatripa. (Victor Mambor)

%d blogger menyukai ini: