“Awas” Malaria! Penyakit Berbahaya Yang Mematikan

“Awas” Malaria! Penyakit Berbahaya Yang Mematikan

“Awas” Malaria! Penyakit Berbahaya Yang Mematikan

JUBI-Perilaku manusia terhadap lingkungan tempat tinggalnya serta parasit tempat jentik-jentik nyamuk terutama bagi nyamuk jenis anopeles penyebar malaria adalah salah satu yang harus diwaspadai. Dan tidak semua jenis nyamuk dapat menyebarkan benih malaria kecuali diatas. Untuk itulah perlunya semua orang melakukan kepedulian terhadap bersih lingkungan sebagai cara efektif untuk menekan perkembangbiakan nyamuk malaria.

Iklim di Papua memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang ideal untuk perkembangan nyamuk dan parasit malaria. Secara teoritis nyamuk bisa terbang hingga 2-3 kilo meter, namun karena pengaruh angin jarak terbang bisa mencapai 40 km. Para ahli banyak memperkirakan bahwa perubahan iklim global turut mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria. Nyamuk anopheles yang biasanya hanya ditemukan di dataran rendah sekarang bisa ditemukan di daerah dataran tinggi atau pegunungan yang tingginya diatas 2000 meter dari permukaan laut seperti yang ditemukan di daerah Jayawijaya papua.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dr Bagus Sukaswara, saat ditemui JUBI beberapa waktu lalu mengatakan bahwa, gangguan nyamuk penyebar malaria tidak kalah seriusnya dengan penyakit berbahaya dan mematikan lainnya. Untuk itulah setiap masyarakat diharapkan dapat menjaga lingkungan bersih dan meminimalisir terjadinya genangan air yang ada di sekitar tempat tinggal.
Menurutnya cara terakhir untuk mengontrol malaria secara murah dan mudah adalah upaya proteksi diri dan keluarga terhadap gigitan nyamuk malaria.
“Marilah kita bersama-sama memperhatikan lingkungan sekitar kita untuk dijaga kebersihannya. Sebisa mungkin membebaskan sekitar rumah dari genangan air atau menutup tempat penampungan air yang bisa dimungkinkan terjadinya perkembangbiakan nyamuk. Kemudian biasakan tidur dengan kelambu untuk menghindari kontak langsung dengan nyamuk” terang Bagus serius.
Dikatakanya, jika seseorang menderita sakit segera mencari pengobatan sehingga tidak menjadi sumber penularan bagi keluarga dan tetangga lainnya. Sementara untuk pencegahan disarankan untuk minum obat jika mengunjungi daerah endemis malaria.
Kata malaria berasal dari bahasa Itali “mal’aria” yang ketika itu orang beranggapan hal itu terjadi karena udara kotor. Namun dalam bahasa Perancis yang disebut “Paludismo” atau daerah rawa dan payau serta pinggiran pantai, dimana indikasi awalnya setiap orang yang menderita penyakit ini kebanyakan berasal dari daerah tersebut.
Saat ini bisa dikatakan sejumlah penyakit berbahaya dan mematikan tengah menemukan lahan subur bagi perkembangbiakannya di Papua. Diantara sekian jenis penyakit berbahaya dan kini menjadi pusat perhatian adalah penyakit “ATM” yakni aids, tuberkulosa dan malaria.
Trio penyakit ini sudah banyak memakan korban jiwa, untuk itulah dengan ditetapkanya penyakit ATM sebagai bagian dari komitmen global, maka bisa diukur seberapa besar bahayanya penyakit tersebut bagi kesehatan manusia.
Malaria kini seolah bangkit kembali dan memperlihatkan kecenderungan lebih berbahaya terutama dengan munculnya spesies baru nyamuk penyebar malaria. Sejak 1 Juli 2003 program pengendalian malaria di 5 provinsi di Indonesia timur (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT).
Global Fund untuk tahap pertama membantu dengan dana hibah yang sudah disepakati sebesar US$.23,704,947 untuk membiayai program intensifikasi pengendalian malaria sampai 30 Juni 2008. Manfaat dari hibah ini sesuai harapannya akan dapat dinikmati oleh 9 juta penduduk beresiko di 61 kabupaten/kota di 5 provinsi tersebut.
Penyakit malaria juga mempunyai sejarah yang digambarkan dalam perang dunia I prajurit inggris banyak yang mati digigit nyamuk penyebar malaria dari pada yang mati karena tertembak peluru lawan. Para ahli memperkirakan bahwa malaria diperkirakan berawal dari Afrika sekitar 12.000-17.000 tahun yang lalu dan menyebar ke seluruh dunia terutama untuk wilayah tropis seperti di Indonesia.
Malaria juga sudah dikenal oleh para dokter zaman China kuno sekitar 2700 sebelum masehi.

Kasus Malaria Di Papua
Angka kesakitan malaria di provinsi Papua dalam kurun waktu 2002-2006 berkisar sebesar 116-248 per 1000 penduduk. Ini merupakan tertinggi di Indonesia. Malaria dianggap merupakan penyebab kematian utama bagi semua kelompok umur di Papua walaupun data kongkretnya tidak dapat diperoleh. Di daerah endemis malaria, penyakit ini menyumbang angka kesakitan anemia dan kematian ibu hamil. Malaria menyebabkan ibu hamil melahirkan bayi dengan berat bayi lahir rendah, prematur dan juga kematian bayi. Akibat lainnya penderita dalam usia produktif akan menurun produktifitasnya.
Pencanangan dimulainya gerakan berantas malaria atau “Gebrak Malaria” secara nasional yang dimulai pada tahun 2000 lalu. Suatu gerakan nasional yang diharapkan dapat menekan penyakit malaria dengan melibatkan berbagai komponen dan elemen masyarakat.
Namun gerakan ini ternyata masih belum berhasil mengontrol kasus malaria.
Sementara itu ahli epidemilogist, Primus R. Prabowo dalam makalahnya yang disampaikan dihadapan wartawan pada lokakarya yang diselenggarakan oleh dinas Kesehatan bersama para kuli tinta di Jayapura berujar, salah satu faktor lingkungan juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan terutama hutan bakau di pinggiran pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di daerah pantai kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-,usuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.
Malaria juga sangat sulit untuk diberantas karena keberadaan nyamuk itu sendiri mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 spesies jenis nyamuk anopheles hidup di bumi. Di Indonesia memiliki sedikitnya 20 jenis anopheles dimana 9 jenis diantaranya merupakan faktor penyebab malaria dan Papua merupakan tempat perkembangbiakan paling potensial.
Malaria Sulit Dikontrol
Secara teoritis cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anopheles yang mengandung parasite seseorang sudah dapat terjangkit malaria. Penyakit ini sebenarnya jenis penyakit yang disebabkan oleh parasite yang dikenal dengan nama plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles sebagai penyebab malaria tropikana dan merupakan jenis paling berbahaya dengan tingkat kematian paling tinggi. Plasmodium yang kedua adalah vivax penyebab malaria jenis tertiana.
Walaupun ditularkan lewat gigitan nyamuk sebenarnya penyakit ini merupakan suatu penyakit ekologis (lingkungan). Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak langsung dengan manusia karena hidupnya tidak jauh dari aktifitas manusia sehari-hari.
Faktor lingkungan antara lain berupa air, suhu udara, kelembaban, arah dan kecepatan angin. Air merupakan faktor esensial bagi kehidupan nyamuk akibat tidak dialirkan dengan baik dan terjadi genangan.
Nyamuk dan parasit malaria sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat celcius dengan kelembaban 60-80 persen.
Diperkirakan 50 persen penduduk indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria. Menurut WHO tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di indonesia dengan 30 ribu kematian. (Anang Budiono)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: