Konsumsi Pangan Lokal di Papua Rendah

JUBI – Provinsi Papua mempunyai potensi persedian bahan pangan lokal yang sangat besar, terutama ubi-ubian dan sagu, yang sudah sejak dulu digunakan sebagai makanan pokok masyarakat Papua. Namun tingkat konsumsinya sangat rendah, bahkan kecil.

Tanah Papua yang mempunyai luas wilayah lebih kurang 421.981 km2 terdapat sumberdaya alam yang diandalkan dalam rangka untuk mendukung penyediaan pangan, baik sekarang maupun yang akan datang.
Jumlah penduduk Papua kurang lebih 2,2 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk sebesar 3,14 % per tahun. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah mengakibatkan (demand) terhadap pangan meningkat. Tampaknya kebijakan pengembangan pangan yang berfokus pada beras telah mengurangi penggalian dan pemanfaatan potensi sumber-sumber pangan karbohidrat lain seperti sagu dan ubi-ubian. Akan tetapi dalam perhitungan ketersediaan dan konsumsi energi penduduk perlu dicermat denga baik. Kesedian energi untuk masyarakat dan tingkat konsumsi energi penduduk masih rendah, yaitu dibawah standard nasional.
Sementara ketersedian energi pangan lokal per kapita per hari lebih tinggi daripada konsumsi energi pangan lokal per kapita per hari. Namun fakta menunjukkan tingkat konsumsi dari bahan lokal perhari ternyata lebih rendah dari pada sumber karbohidrat lainnya, seperti beras. Pengembangan dan pemamfaatan sumber pangan lokal diharapkan dapat meningkat, terutama sebagai bahan baku produk pangan olahan dan bahan industri.
Secara umum sagu dan ubi-ubian merupakan pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir semua masyarakat Papua, sementara komoditi unggulan untuk setiap kabupaten berbeda-beda. Sebagai contoh : Kabupaten Merauke dengan komoditi andalannya gembili (kumbili); Jayawijaya dengan ubi jalarnya; Biak Numfor dengan bete, keladi, buah bakau, pokem dan aibon; Kabupaten Manokwari dengan pisang; Kabupaten Sorong dengan Talas.
Dalam buku “Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal Papua di Provinsi Papua” terbitan tahun 2002, dalam melakukan analisis ada berapa hal yang perlu dilihat dalam kehidupan masyarakat Papua, seperti : 1). Kedudukan atau fungsi pangan seperti pangan pokok, berfungsi tambahan dan fungsi tradisi atau budaya atau agama; 2). Daya terima atau besarnay konsumsi masyarakat; 3). Mamfaat Kesehatan; 4) Kesiapan teknologi dari hulu hingga hilir; 5). Kesiapan masyarakat untuk mengembangkannya; 6). Kesiapan instansi teknis terkait untuk melakukan pendampingan. Selain itu apresiasi terhadap kearifan lokal (indigenous Knowloedge) perlu ditingkatkan dan digunakan sebagai landasan untuk pemberdayaan masyarakat di Provinsi Papua. Kearifan lokal yang dimiliki oleh Provinsi Papua antara kekayaan genetik berbagai jenis tanaman pangan seperti jenis ubi jalar, talas, ubi kayu, sagu, buah merah, aibon, satwa liar, bulu babi, buah-buahan dan sayuran endemik Papua antara lain, sayur lilin, tebu telur dan buah matoa serta berbagai jeis tanaman obat-obatan. Di samping masyarakat tani Papua juga mempunyai berbagai teknologi produksi tradisional dalam budidaya tanaman pangan spesifik lokal yang mempunyai keunggulan dalam hal ramah lingkungan dan tidak mengunakan input teknologi tinggi.
Berdasarkan perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM) Tahun 2002, ketersediaan energi di Provinsi Papua 2.324 kkal/kapita/hari. Angka ini masih di bawah standar nasional sebesar 2.550/kkal/kapita/hari. Sedangkan tingkat konsumsi energi penduduk Provinsi Papua sesuai hasil Survei Sosial dan Ekonomi (SUSENAS) tahun 1999 mencapai 1.826,65 kkal/kapita/hari juga masih di bawah standar nasioanal sebesar 2.200 kkal/kapita/hari. Sedangkan konsumsi penduduk Papua terhadap pangan di tahun 2007 sebesar 2.847 kkal/kapita/hari. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2007 tingkat konsumsi energi sebesar 1.940 kkal/kapita/hari atau masih di bawah standar Nasional sebesar 2.000 kkal/kapita/hari.
Berdasar perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM) tahun 2002, ketersedian pangan lokal yang meliputi sagu, ubijalar, dan keladi adalah seperti tabel 1.
Berdasarkan perhitungan data survei Sosial dan ekonomni Nasioanal, Konsumsi pangan lokal penduduk Provinsi Papua tahun 2002 adalah seperti pada Tabel 2.
Pada tabel 1 dan 2, terlihat bahwa ketersediaan pangan lokal lebih besar daripada konsumsinya. Hal ini menunjukkan bahwa Provinsi Papua telah berswasembada komoditi sagu, ubijalar dan keladi yang berati kebutuhan konsumsi sehingga tidak memerlukan suplai dari luar. Namun apabila dikaji bahwa konsumsi sagu, ubijalar dan keladi per kapita per hari tersebut lebih rendah dari pangan pokok sumber karbohidrat lainnya seperti beras yang mencapai sebesar 214,90 gram atau 78,47 kg per tahun.
Perlu adanya kebijakan pengembangan pangan lokal yang di Implementasikan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua dalam rangka pengembangan pangan lokal (Sagu dan Ubi-ubian). Maka perlu kebijakan sebagai berikut : Adanya pengembangan komoditi sagu dan perwilayahan komoditi ubi-ubian dan tanaman lokal lainnya yang disesuiakan dengan argoekosistem masing-masing daerah, mensosialisasi pemafaatanya, secara terus menerus dilakukan peningkatan produksinya, pembuatan kebun bibit pangan lokal desa, melakukan budaya sagu di daerah yang penduduknya menunjukkan trend konsumsi beras terus menerus serta memberi bantuan modal maupun peralatan untuk mengelolahan bahan pangan lokal serta perlu peningkatan daya beli masyarakat melalui berbagai jenis tanaman pangan lain sebagai alternatif lain. Yang paling utama adalah memodifikasikan pemberian Raskin dengan komoditi sagu dan ubi-ubian sekaligus dapat menekan suplai beras dari luar.
Rata-rata produksi pangan di Kabupaten Jayapura yaitu tahun 1997-2001 dan khusus produksi tahun 2002 disajikan pada tabel 3.
Data pada Tabel 1, memperlihatkan bahwa produksi sumber pangan pokok karbohidrat padi dan biji-bijian mengalami penurunan dengan produksi yang lebih fluktuatif kecuali kacang tanah dan kacang hijau sementara produksi ubi-ubian dan sagu sebagai panagn spesifik lokal cenderung meningkat dan sangat stabil produksinya. Rata-rata kebutuhan akan pangan per komoditi di Kabupaten Jayapura dari tahun 1997-2001 untuk beras adalah 22.200 ton, jagung 1.230 ton, kedelai 1.487, kacang tanah 626 ton, kacang hijau 461 ton, ubi kayu 5.305 ton, ubi jalar 5.215 ton, keladi-keladian 2.763 ton dan sagu 5.086 ton. Dengan demikian bila diperbandingkan antara kebutuhan rat-rata daerah ini dengan produksi tahun 2002 dalam prosentase untuk masing-masing komoditi adalah : beras = -74%, jagung +41%, kacang tanah +39%, kacang hijau +40, kedelai +47%, ubi kayu +15%, ubi jalar +20%, keladi +31% dan sagu +47%. Kebutuhan yang dimaksud disini adalah yang dipergunakan atau dikonsumsi daerah ini. Kondisi ini memperhatikan bahwa kelompok pangan padi masih mengalami defisit sedangkan kelompok pangan sagu dan ubi-ubian (spesifik lokal) mengalami surplus yang signifikan. Bila dilihat bahwa padi dengan produksi 9.404 ton (setara beras 6.200 ton) saja disumbangkan untuk kebutuhan daerah ini dan sisanya sekitar 15.000 ton masih disuplai daerah lain seperti Sulawesi, Jawa dan Merauke. Kelompok pangan spesifik lokal bila diakumulasikan memberikan kebutuhan panagn karbohidrat penduduk sebesar 21.614 ton dan 4.513 ton dapat disumbangkan ke daerha lain. Dengan demikian kontribusi pangan spedifik lokal bagi pemenuhan pangan sangat nyata bagi ketahanan pangan daerah ini. Kestabilan produksi bahkan kelebihan produksi pangan lokal seharusnya dapat mengantikan kekurangan kebutuhan beras sehingga dapat terwujud ketahanan pangan daerah Jayapura. (Carol Ayomi dan Dominggus A Mampioper)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: