Pertambahan Penduduk dan Aktivitas Tambang di Papua

Victor M)JUBI – Provinsi Papua adalah sebuah wilayah yang paling terbuka (open policy) sehingga tidak tertutup kemungkinan migrasi penduduk dari luar Papua bisa bebas masuk ke wilayah ini. Baik sebagai pekerja mau pun juga mencari pekerjaan. Dua wilayah yang laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Papua cukup tinggi adalah Kabupaten Keerom dan Kabupaten Mimika.

Dulu sebelum pemekaran Kabupaten Keerom wilayah ini merupakan bagian dari Kabupaten Jayapura yang penduduknya banyak berasal dari kuar Papua khususnya kaum transmigran. Penambahan penduduk ini semakin marak tatkala aktivitas Perkebunan Inti Rakyat (PIR) trans Kelapa Sawit mulai dibuka di sana sekitar 1980 an.
Agaknya pertumbuhan penduduk di wilayah Keerom ini terus semakin meningkat saat wilayah ini berpemerintahaan sendiri tingkat kabupaten. Ciri-ciri penduduk yang paling dominan di kabupaten yang jumlah penduduknya 42.883 jiwa (data penduduk 2008) adalah mereka yang berprofesi sebagai wira usaha. Sedangkan sisanya sebagai petani ladang, perkebunan dan sawah. Ada pula yang masih peramu khususnya mereka di perbatasan dengan PNG dan beberapa distrik antara lain Distrik Waris, Arso Timur, Senggi, Web dan Towe Hitam.
Di Provinsi Papua wilayah yang punya laju pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kabupaten Mimika. Wilayah ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat tetapi sejak dimekarkan laju pertambahan semakin tinggi karena terdapat aktivitas kegiatan penambangan PT Freeport Indonesia.
Sebuah studi yang pernah dilakukan Kantor Penelitian Sosial dan Pengembangan Informasi PT Freeport dengan Lemasko dan Lemasa di Kabupaten Mimika menyebutkan pada tahun 1999 Kabupaten Mimika memiliki jumlah penduduk sekitar 92.000 jiwa (91.670 jiwa berdasarkan angka statistik Kantor Bupati Mimika) naik dari jumlah lebih dari 14.000 orang dalam waktu hanya 14 tahun yang lalu.
Berdasarkan angka-angka ini ternyata pada tahun 2000 atau sekitar delapan tahun lalu tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Mimika adalah sebesar 16,9 % per tahun.
Penelitian lainnya yang pernah dilakukan oleh Dames & Moore tahun 1997 juga di Kabupaten Mimika menyebutkan jumlah penduduk sebanyak 60.000 jiwa dengan komposisi perbandingan sebagai berikut 36 % penduduk asli (Kamoro dan Amungme),13,6 % orang Papua lainnya yang bukan Kamoro dan Amungme dan 49,8 % adalah orang Indonesia lainnya.
Selain itu berdasarkan data statistik di Pelabuhan Poumako Kabupaten Mimika, rata rata jumlah penumpang yang masuk melalui laut per bulan dalam tahun 1999 adalah 199 orang. Sedangkan dalam tahun 2000 rata-rata jumlah penumpang yang masuk melalui laut perbulan adalah 746 orang. Ini berarti terjadi peningkatan jumlah penumpang masuk melalui laut perbulan sebanyak 293 % antara tahun 1999 dan tahun 2000.
Menyimak fakta-fakta yang terangkum dalam hasil penelitian kedua lembaga baik oleh Penelitian Sosial dan Pengembangan Informasi PT Freeport dan juga Dames & Moore ternyata ada beberapa masalah yang ditemui di Kabupaten Mimika antara lain :
1. Sampai saat ini belum diketahui adanya suatu kebijakan pemerintah yang jelas dan efektif yang dapat menghentikan atau mengurangi derasnya arus migrasi manusia/orang yang berasal dari pulau-pulau lain di Indonesia mau pun yang berasal dari Papua ke suatu taraf yang dapat dikelola dengan efektif.
2. Seluruh proses urbanisasi sejak semula tidak mengikuti suatu perencanaan tata ruang induk. Hal ini disebabkan kehadiran dan keteribatan pemerintah baru efektif tahun 2000. Akibatnya penyebaran penduduk di beberapa tempat di bagian Kota Timika bersifat sangat kacau, padat penduduk, tak dapat dikelola dengan baik,tak berpola dan tak sehat dari sudut sosial, moral, penegakan hukum, budaya dan lingkungan. Akibatnya jelas akan terus menimbulkan sejumlah masalah baik dari segi sosial, ekonomi, sosial budaya dan sosial politik, penegakan hukum (pidana dan perdata) dan moral susila.
3. Hal ini juga terlihat jelas pada infrastruktur dasar seperti sistem jalan dan transportasi, sistem drainase/pembuangan air dan kotoran, sistem pembuangan sampah,sistem air bersih, dan lainnya berada di bawah standar minimal.
Pesatnya laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Mimika jelas dipicu oleh potensi pertambangan areal PT FI terutama menyangkut lapangan kerja formal mau pun informal. Hal inilah yang terus memacu laju pertambahan penduduk karena faktor migrasi masuk ke daerah baru terutama aktivitas pertambangan atau kegiatan pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain sangat jelas pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi akan menggusur ketidak siapan penduduk asli. Baik dari segi ketrampilan mau pun kehilangan areal mata pencaharian terlebih jika masyarakat tersebut masih berada dalam kondisi masyarakat peramu dan hidup berpindah-pindah.
Suku Kamoro misalnya adalah masyarakat yang hidup di atas perahu (sampan), sungai dan sagu tetapi areal untuk hidup semakin kecil karena pendangkalan sungai karena limbah tailing atau juga tergusur karena faktor ekonomi. Untuk bersaing dalam bidang ketrampilan dengan penduduk lainnya tentu sangat sulit. Mau kembali ke kehidupan semula pun tak bisa karena areal sudah terganggu dan sungai sungai telah dangkal.
Sebuah studi berjudul Konsumsi Molluska di Kawasan Muara dan Pantai Mimika (Study on Mollusc Consumption Among People Reside Around Mimika’s Estuaries) yang ditulis oleh alm Drs Jaan Piet Baransano surveyor Yayasan Lingkungan Hidup (YALI)-Papua kawasan estuari Mimika dan sekitarnya terancam rusak akibat pembuangan pasir sisa dan cemaran limbah tailing berimplikasi pada hilangnya sumber sumber pangan alami masyarakat, rusaknya sistem sosial budaya masyarakat coastal. Yang perlu diperhatikan adalah menurunnya kualitas kesehatan masyarakat baik secara evolutif atau pun revolutif.
Meningkatnya kapasitas produksi sampai dengan 300.000 ton per hari, dikhawatirkan meningkatkan potensi kerusakan kawasan Estuaria. (Bandingkan dengan Amdal Regional yang telah disetujui).
Masyarakat juga belum menyadari kemungkinan kerusakan kawasan Estuari akibat tailing dan implikasi terhadap perubahan-perubahan kehidupan sosial ekonomi dan sosial budaya masyarakat Kamoro dan Sempan.
Selama ini sudah muncul keluhan keluhan dari masyarakat Estuaria terutama tentang pendangkalan sungai sungai terutama di East Leeve; pendangkalan muara-muara sungai, tambelo dan siput menghitam bahkan ada yang hilang jenis jenisnya termasuk beberapa kepiting sudah mulai jarang terlihat.
Di daerah muara dan pantai Mimika, yang sebagian termasuk daerah kerja PT FI bermukim sekitar 4000 penduduk yang umumnya penduduk lokal suku Kamoro dan Sempan yang mempunyai mata pencaharian peramu, petani dan nelayan merasa terancam karena pendangkalan sungai, hilangnya dusun sagu dan kayu perahu hilang (kering).
Salah satu makanan kegemaran suku Kamoro dan Sempan adalah Tambelo. Umumnya tambelo dikonsumsi dalam bentuk segar tanpa diolah atau dimasak.Ada beberapa warga di kampung Kali Kopi, Fanamo, Otakwa, Tipuka, Poumako, Atuka, Aikawapuka dan Mioko masih mengkonsumsi Tambelo ini dalam bentuk segar. Namun ada penduduk di Kampung Omawita yang sudah tidak lagi mengosumsi Tambelo karena sudah dipengaruhi tailing hingga berwarna hitam dan rasanya sudah tak enak lagi. Kaum perempuan yang selalu mencari Tambelo, Siput dan Kerang di lokasi kawasan Estuari Kabupaten Mimika. Adapun masyarakat yang mengeluh sulit memperoleh tambelo di Kali Kopi (43,3%), Omawita (100%), Fanamo (66,7 %), Tipuka (13,3 %), Poumalo (6,9%) dan Kaugapu (100%). Kesulitan mencari tambelo di Kali Kopi dan Omawaita karena pendangkalan tailing.
Hal penting yang harus dipantau adalah resiko kesehatan dari konsumsi molluska yang mempunyai peran dalam makanan budaya dan kesehatan penduduk yaitu Bactronophorus Thoracites (Tambelo), Nerita Balteata, Nerita Planospira, Naqueita Capulina, Pugilina Cochlidium, dan Telecopium Telescopium (Siput) serta Gelona sp (kerang) terutama kawasan Estuaria di muara sungai Ajkwa dan Minajerwi. (Dominggus A. Mampioper dari berbagai sumber).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: