Penangkar Maleo dan Mambruk Peraih Kalpataru

Penangkar Maleo dan Mambruk Peraih KalpataruJUBI-Melihat pengrusakan hutan disekitarnya berjalan dengan sangat cepat, pensiunan guru ini kemudian banting setir menjadi penangkar, yang kemudian membawanya menjadi peraih Kalpataru.

Pensiun dari pekerjaannya tahun 1990 dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong (saat ini Sorong Selatan) tidak kemudian membuatnya berdiam diri di rumah. Baginya pensiun justru membuatnya memiliki banyak waktu untuk mengerjakan hobinya yang sering tak dilakukannya semasa ia aktif bekerja. “Waktu saya pensiun tahun 1990, saya sudah tidak ada pekerjaan sampingan di rumah. Saya lalu mencoba untuk memanfaatkan waktu dengan menangkar hewan” ujar Wilhelm Mambor kepada Jubi saat ditemui dikediaman adik kandungny, di Angkasa Indah Jayapura, Jumat 22 Februari lalu.
Hewan yang ditangkar adalah hewan-hewan yang masuk kategori langka, diantaranya Burung Mambruk, Burung Nuri, Burung Kakatua Merah, Burung Kakatua Hijau, Burung Maleo, dan Burung Kasuari.
Jumlah burung yang biasanya ia pelihara dalam satu kandang sangat terbatas, tidak lebih dari dua hingga empat ekor per kandang. Hal ini dise-babkan karena kandang yang terbatas sehingga jumlahnya pun sedikit ha-nya dua pasangan saja sebanyak tujuh jenis burung saja.
“Minimal harus satu pasangan setiap jenisnya, karena saat ini saya hanya memiliki dua buah kandang burung saja,” kata Wilhem. Selain burung, Wilhem juga memiliki hewan piaraan lainnya, seperti ular, dan kus-kus. Masing masing memiliki satu kandang yang terpisah.
Untuk memelihara hewan ini, kakek 32 cucu ini ternyata mengeluarkan dana yang tidak sedikit sekitar Rp. 500.000 per bulan. “Untuk makanan buah-buahan seperti pisang dan buah tomi – tomi saya tidak membeli. Cukup memanennya di kebun sendiri. Tapi untuk jagung dan jenis kacang kacangan seperti kacang hijau dan kacang tanah saya beli di pasar,” tutur lelaki yang akrab dipanggil oleh anak anak didiknya dengan sebutan tuan guru.
Hampir semua fauna peliharaan tuan guru termasuk golongan margasatwa yang dilindungi. Untuk memperoleh kandang harus membeli dari penduduk setempat. “Orang-orang kampung yang men-jual dengan harga seki-tar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per ekor. Burung burung ini kemudian ditangkar di kandang,” ujar kakek berusia 71 tahun ini.
Bukan fauna saja yang digelutinya, tuan guru Wilhelmjuga menanam dan merawat flora atau tanaman hias yang jumlah sudah mencapai 155 spesies. “Fokus tanaman hias yang saya geluti adalah jenis palem/palma, Authurium dan keladi hutan,” katanya. Authorium Papua atau keladi hutan lanjut Mambor kini sangat digemari masyarakat di kota. Jika tidak dibudidayakan, ia khawatir tanaman asli Papua ini akan punah karena terus digerogoti dan diambil dari hutan.
Bukan itu saja yang ia kembangkan ada juga jenis lain yang sudah dibudidayakan untuk kebutuhan konsumsi sehari hari seperti kebun pinang sebanyak 1000 pohon, kebun salak sebanyak 1000 pohon dan buah tomi-tomi hutan. Buah dari tomi-tomi ini adalah makanan dari burung kasuari. “Lahan yang saya miliki saat ini seluas 2 hektar, dan sudah saya tanami dengan pohon pinang dan salak. Sekarang saya tinggal menikmati hasilnya,” katanya. Untuk menunjang pekerjaan penangkaran, tuan guru tidak bekerja sendiri tetapi juga mendapat dukungan dari seluruh keluarganya. Saat ini keponakan, anak-anak maupun cucu-cucunya turut pula membantu. “Saya terus berusaha melatih mereka agar turut pula mencintai alam beserta segala isinya. Dan berharap kelak mereka akan melanjutkan pekerjaan ini,” ujar ayah dari delapan orang anak ini.
Kepeduliannya terhadap lingkungan bukan datang begitu saja atau sekedar hobby semata.Semua ini tergerak saat paitua Wilhelm menyaksikan di depan mata bagaimana perilaku manusia yang tak bertanggungjawab melakukan penebangan liar, menjual kayu illegal pembakaran hutan, penangkapan hewan bahkan penembakan burung-burung dengan seenaknya di hutan tanpa ada pengawasan.
“Saya menjadi guru di Teminabuan sejak 1962. Hingga tahu betul perubahan dan kerusakan hutan secara perlahan lahan. Untuk itu saya rasa pelestarian ini mutlak dilakukan. Dan lewat kegiatan ini,saya berpesan agar semua masyarakat dan pemerintah mengasihi dan mencintai alam” ujar Paitua Wilhelm.
Semua hasilnya kerjanya sejak 1990 tak sia sia. Bahkan pada Juni 2001 lalu tuan guru Wilhelm, mendapatkan penghargaan sebagai salah satu perintis lingkungan hidup Kalpataru di Indonesia dari Presiden Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Megawati Soekarno Putri. “Kemudian tahun 2007 lalu Megawati mengundang kami semua penangkar di seluruh Indonesia termasuk saya untuk ikut temu wicara dengan Mantan Presiden Megawati dan sekaligus menerima penghargaan kedua sebagai pecinta lingkungan,” katanya.
Dari perkumpulan penangkar dan pecinta lingkungan yang ada di seluruh Indonesia ini membentuk satu Forum yang berpusat di Jakarta, Forum ini di beri nama Forum Keluarga Kalpataru (FOKEL) yang diresmikan pada tanggal 13 mei 2007 lalu di Depok oleh Mantan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri.
Menyinggung soal bantuan dana, menurut dia selama bekerja sebagai penangkar, hanya World Wild Fund (WWF) Indonesia yang pernah memberikan bantuan dana sebesar Rp. 20 juta kepadnya untuk mengembangkan usaha penangkaranya. Ia menerima bantuan tersebut tahun 2007 lalu di Jakarta pada saat diundang oleh mantan Presiden Megawati untuk melakukan temu wicara. Sedangkan dari pihak pemerintah daerah sampai saat ini ia belum menerima bantuan sama sekali. Walaupun saya sudah mendapat-kan dua kali penghargaan dari pemerintah pusat, karena selama 19 tahun bekerja sebagai penangkar, tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah Kabupaten Sorong maupun Kabupaten Sorong Selatan sendiri,” ujar pria yang sudah mempunyai 1 orang cici ini.
Bukan itu saja kata tuan guru Mambor, instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan sudah berkali kali mengunjungi dan melihat penangkatan di lokasi tetapi tak ada tanggapan. “Pada saat mereka me-ngunjungi ke tempat penangkaran, saya langsung sampaikan permintaan bantuan untuk pengembangan usaha penangkaran agar kandang bisa lebih besar dan jenis burung semakin banyak yang bisa diselamatkan kepada mereka.Mungkin juga bukan bantuan dana saja tapi bisa dalam bentuk bantuan apapun saya terima, misalnya seperti kawat, keranjang burung dan yang lain-lainnya untuk saya pakai untuk buat kandang.” ujar Wilhem Mambor. Sayang harapannya belum berbuah hasil, bantuan yang dinantikan itu tak kunjung datang.
Ia bosan dengan janji-janji dari pemerintah Kota Sorong maupun Kabupaten Sorong Selatan. Meski demikian tak membuatnya putus asa dan patah semangat. Ia berte-kad untuk tetap jalan terus dengan kemampuan dan modalnya sendiri untuk menekuni pekerjaan mulia ini. “Meski tak ada keuntungan yang bisa diperoleh namun saya tetap berusaha untuk mengerjakan pekerjaan ini karena saya mencintai alam ,” katanya.
Baginya hutan adalah kekayaan yang sangat berharga. Jika dijaga dan dipelihara dengan baik maka suatu ketika hasilnya akan dinikmati oleh anak cucunya.
Kedepan ia mengharapkan Dinas Kehutanan untuk mengambil tindakan yang tegas untuk segala bentuk tindak pengrusakan hutan. “Contoh kongkrit yang bisa kita lihat bersama-sama yaitu burung Cenderawasih yang dikenal dengan burung surga. Sampai saat ini kita sudah jarang melihat burung itu padahal itu merupakan burung yang hanya terdapat di daerah Papua dan tidak ada di daerah lain. Hal ini terjadi karena orang telah menangkap dan menjual burung ini secara bebas. Dan pemerintah terkesan membiarkan begitu saja,” ujar paitua Wilhelm kesal.
Menurutnya teknologi masa depan harus berakar pada alam. “Dengan bersahabatlah dengan alam, mengasihi ciptaan Tuhan seperti dirimu sendiri, berikanlah tangismu kepada sungai-sungai dan pohon” ujar Wilhelm mengakhiri wawancaranya dengan JUBI. (Musa Abubar)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: