Prestasi Belajar Putra Daerah Papua Khusus Bidang Studi MIPA Sangat Minim

JUBI – Selasa, 29 Januari 2008 Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Provinsi Papua bekerja sama dengan Institut of Community Development Emprowement (ICDp) Papua, melaksanakanakan seminar sehari, Untuk membahas hasil penelitian dari ICDp mengenai Studi tentang Prestasi Belajar siswa Putra Daerah khsususnya bidang MIPA pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Provinsi Papua.

Seminar tersebut, bertempat di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Provinsi Papua. Seminar ini dilakasanakan untuk mempresentasikan hasil penelitian lapangan dari Institut of Community Development Empowerment (ICDp) Papua, untuk mempresentasikan hasil penelitian Prestasi Belajar Putra Daerah Pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah di beberapa Kabupaten Provinsi Papua.
Drs. Jhon Rahail mengawali seminar tersebut dengan memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan pelaksanaan seminar tersebut serta metode yang digunakan dalam penelitian tersebut. Melky mengatakan dasar pelaksanakan penelitian ini adalah UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN), dan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua.
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN) dirumuskan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan aklag mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya bagi masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mencapai harapan tersebut secara khusus di Provinsi Papua melalui UU Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua, secara tegas mengatakan semua pihak perlu memberikan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak atas pendidikan, kata Rahail. Menurutnya ada tiga unsur dalam pendidikan yang harus diperhatikan, yaitu kekuatan pendidikan, kecerdasan siswa, dan pendidikan formal dan non informal.
Tujuan umum dari pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah ingin mengetahui prestasi belajar siswa putra daerah di tingkat dasar (SD) dan (SMP) khususnya mata pelajaran MIPA, sedangkan tujuan khsusus dari pelaksanaan penelitian ini adalah ingin mengetahui prestasi belajar siswa putra daerah di tingkat SD dan SMP khususnya mata pelajaran MIPA, mengetahui faktor pendukung dan penghambat prestasi siswa putra daerah dalam mata pelajaran MIPA, mengetahui upaya pemecahan masalah yang berbasis prestasi belajar siswa yang dapat dilakukan dalam mata pelajaran MIPA.“ ujar Rahail.
Lanjut Rahail Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Observasi partisipatif dan deskriptif yang bersifat analitik, dan dilakukan dengan cara wawancara dan diskusi kelompok antara para siswa dengan para guru. Populasi yang diambil dalam penelitian ini yaitu siswa-siswi (khususnya putra daerah), sedangkan sampelnya sebanyak 500 orang secara keseluruhan (SD 50 orang dan SMP 50 orang) di setiap daerah. Jadi jumlah seluruh sampel yang diambil dari tiap kabupaten dalam penelitian ini sebanyak 500 orang.
Setelah penjelasan dari Jhon Rahail mengenai pelaksanaan penelitian tersebut, dilanjutkan dengan penyampaian hasil penelitian yang dilakukan yang di sampaikan oleh keetua tim Melky Kolotjuju.
Penelitian ini hanya di lakukan di beberapa kabupaten saja, tidak semua kabupaten yang ada di provinsi papua. Daerah yang kami pilih untuk melakukan penelitian adalah sebagai berikut ;
Daerah Pantai Utara Sarmi ; Sarmi Kota dan Pantai Timur Barat, Daerah Pantai Selatan ; Mimika Baru dan Mimika Timur, Daerah Pulau, Biak Numfor, Biak Kota dan Biak Timur, Daerah Pengunungan tengah; Yahukimo, Dekai, Perbatasan ; Keerom, Arso dan Skamto.
Penelitian ini membahas tentang lokasi penelitian, sebaran lokasi penelitian sekolah, jenis dan jenjang pendidikan, tingkat pendidikan karakteristik responden, fasilitas belajar dirumah, fasilitas belajar di sekolah, prestasi belajar khsusnya mata pelajaran MIPA serta membahas tentang hambatan dan pemecahan masalah belajar. Masalah yang menjadi hambatan pada siswa SD dan SMP di beberapa kabupaten yang menjadi lokasi penelitian kami yaitu; tidak mempunyai perlengkapan fasilitas belajar, tidak punya pakaian seragam, malu ke sekolah, tidak memiliki buku paket pelajaran MIPA, tidak mempunyai catatan pelajaran, tidak belajar di rumah, tidak dapat dukungan belajar dari orang tua untuk belajar di rumah, seiring tidak masuk sekolah, sering terlambat sekolah, sering pulang sekolah sebelum waktunya, sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, sering main dalam kelas ketika ada pelajaran, dan takut bertanya kepada guru saat jam pelajaran. “ujar Melky dalam presentase hasil penelitian.
Selain itu, Melky menambahkan beberapa masalah yang ditemukan di lokasi penelitian. Ada beberapa daerah pedalaman sekolahnya jauh dari tempat tinggal masyarakat maka jalan satu-satunya yang harus di tempuh oleh para siswa harus berjalan kaki setiap harinya, misalnya seperti di daerah Pantai Timur Sarmi dan daerah Yahukimo. Ada perpustakaan dan labaratorium yang kosong MIPA dan komputer tapi tidak ada buku dan fasilitas di dalamnya, ada yang memang sudah ada buku dan fasilitasnya tetapi belum ada listrik.
“Ada siswa yang mengatur jam sekolah, mengatur gurunya, sehingga membuat guru-guru yang ada tidak mengajar dengan baik, selalu stress. Di daerah Pantai Timur Sarmi, kepala sekolah rambutnya gondrong atau alias panjang, ketika di tanyakan oleh kami tim peneliti mengapa bapa rambutnya panjang, beliau mengatakan kepada kami bapa saya strees jadi begini” ungkap Kolotjuju.
Pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sudah luar biasa, namun implementasinya belum optimal. Untuk itu perlu ada komitmen yang sungguh-sungguh dari pemerintah dalam membuat ukuran yang jelas, strategi yang jelas untuk mengatasi masalah pendidikan ini. Kalau bisa dana otsus yang dialokasikan dengan baik agar pendidikan di daerah pedalaman bisa merasakannya selain itu mereka juga merasakan pendidikan itu murah tidak mahal.” ujar Jhon Rahail, ketika di wawancarai Jubi, setelah seminar.
Rahail juga mengharapkan dengan data yang sudah ada diharapkan ke depan Dinas P dan P Provinsi dan Pemerintah Daerah membuat perubahan di lokasi yang sudah subyektif ini dan ada keberpihakan yang nyata. Kemudian dari Tim peneliti sendiri juga harus jujur mengatakan masalah pendidikan yang masih tertinggal berdasarkan data yang obyektif dan dilanjutkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua untuk memperhatikan permasalahan ini dalam membuat perencanaan pembangunan di bidang pendidikan sesuai dengan persoalan pendidikan yang ada di daerah pedalaman. (Musa Abubar)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: