Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Dan Potensi Wisata Raja Ampat

JUBI – Pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alam oleh masyarakat dengan membuat Zona tabungan ikan. Salah satu pulau yang akan dikelola sebagai tempat wisata dan pelampung Spags, tempat pemijahan ikan gerapu.

Ayau Asia sebagai salah satu kawasan MPA (Kawasan Konservasi Laut Daerah) di Raja Ampat berdasarkan Deklarasi Kabupaten Bahari pada November 2006 dan Kesepakatan masyarakat serta Pemerintah Distrik dan Pemerintah Kampung Sewilayah Ayau pada tanggal 2 April 2007 merupakan salah satu pilihan pembangunan yang cocok bagi pengembangan wilayah pesisir dan Pulau-pulau kecil. Momentum ini merupakan suatu perjuangan yang cukup panjang dan berat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bagi pemanfaatan sumberdaya alam laut yang ramah dan berkelanjutan.
Beberapa lembaga, baik lokal, nasional hingga internasional yang bergiat bagi pelestarian sumberdaya alam laut berkewajiban membantu, memfasilitasi proses ini untuk mencapai hasil yang maksimal dimasa yang akan datang dengan menguatkan sumberdaya manusia, alam dan buatan yang cocok bagi masyarakat dikawasan MPA Ayau Asia. Salah satu sumberdaya buatan yang bisa digunakan adalah merencanakan, mengembangkan dan menjalankan suatu program kebijakan sebagai modal untuk memperkuat kesadaran pentingnya KKLD di Ayau Asia bagi masa depan umat manusia baik secara lokal Ayau, regional Raja Ampat, Nasional Indonesia maupun Internasional bagi masyarakat dunia.
Tentunya peran ini lebih besar dan seharusnya diambil oleh PEMDA Raja Ampat sebagai kepanjangan tangan masyarakat, tetapi juga sebagai kepanjangan dari pemerintah pusat dan sebagai otoritas pembangunan. Namun lembaga-lembaga yang bekerja disekitar kawasan Ayau Asia juga berupaya memastikan memastikan bahwa kegiatan ini bisa dilakukan secara tepat berdasarkan ilmu pengetahuan modern, dan ilmu pengetahuan masyarakat sebagai pengalaman memanfaatkan dan mengelolah sumberdaya alam laut secara lestari.

Gambaran Umum MPA Ayau Asia
Secara geografis Ayau-Asia terletak pada 130º54 BT- 131º14 BT dan 0º12 LU- 0º45 LU. Serta berbatasan dengan :
Bagian Utara : Negara Palau dan Filipina
Bagian Timur : Kepulauan Mapia Biak dan Manokwari
Bagian Selatan : Kabupaten Sorong dan Waigeo Timur.
Bagian Barat : Waigeo Utara

Secara umum masyarakat Ayau adalah Nelayan yang kesehariannya tergantung dari Alam Laut segala potensi yang bisa dimanfaatkan untuk pertahanan hidup (makanan), sebagai sumber ekonomi, sebagai sumber spiritual (membangun gereja dan ritual adat maupun agama), sumber kehidupan masa depan (pendidikan dan kesehatan). Sangat jelaslah bahwa Ayau adalah petualang laut yang sejati. Sebenarnya luas daratan juga masih mencukupi hanya saja sebagaian besar di padati oleh pasir dan batuan gunung sehingga pengelolahan darat baik pertanian, maupun peternakan belum mampu diolah, perlu ketrampilan khusus atau teknologi lain untuk mengelolah lahan didarat.

Penduduk Di Ayau terdiri dari dua sub suku Biak yaitu:
Suku Wardo Yenkawir, Rutum dan Reni. berbahasa Biak ragam Wardo.
Suku Usba : Dorehkar dan Mosbekwan.berbahasa Biak ragam Usba.
Jumlah marga keseluruhan ada 24 marga dengan Hak Petuanan masing-masing. Walaupun demikian ada daerah-daerah yang diperebutkan oleh beberapa marga.
Jumlah Penduduk yang benar-benar menetap di Ayau berdasarkan PRA 2006 adalah 1996 jiwa. Secara umum masyarakat hidup mencari di sekitar17-24 pulau yang ada diwilayah Ayau secara bebas hanya saja akan menjadi masalah jika ada investasi ataupun suatu proyek pembangunan yang akan masuk kedaerah ini. Karena selain hak atas lahan dari adat, soal lain yang muncul juga adalah komposisi penduduk yang tidak merata dimana ada kampung dan marga yang sangat besar dan ada kampung yang kecil dan sedikit penduduknya.
Dari hasil penelitian Conservasi Internasional Indonesia program Raja Ampat, telah membuktikan bahwa Kepulauan Ayau merupakan salah satu kawasan yang dapat dijadikan SPAGs ( tempat pemijahan ikan gerapu). Tempat dimana ikan akan selalu kumpul untuk kawin dan bertelur.
Ayau merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari kepulauaan Ayau sendiri, yang terdapat 10 pulau – pulau kecil dan besar serta kepulauan Asia yang memiliki 3 pulau yang merupakan pulau terluar, berbatasan dengan negara kepulauan Palau. Kawasan ini memiliki potensi ikan yang cukup berlimpah, dari hasil penelitian ini juga terdapat 29 jenis ikan karang serta 3 jenis penyu. Prosentasi karang hidup 80% dan karang mati atau rable 30 %, karang hidup ini juga terdiri dari jenis karang keras dan jenis karang lunak.
Di kepulauan Ayau terdapat 5 kampung dan 4 kampung telah melakukan peruntukan kawasannya masing – masing lalu juga telah memasang pelampung sebagai tanda bahwa ini merupakan kawasan yang telah ditentukan sebagai zona tabungan ikan, sehingga akan di buat juga zonasi untuk kawasan tangkap atau areal pemanfaatan bagi masyarakat. Areal ini akan di tandai dengan rompon, yang tentunya tidak jauh dari zona perlindungan, karena ketika ikan memijah dan bertambah banyak di dalam tabungan ia akan keluar, ketika ikan keluar dari zona perlindungan ini otomatis akan dapat di manfaatkan oleh masyarakat.
Penentuan kawasan ini memang di mulai dengan proses sosialisasi kepada masyarakat, proses ini juga membutuhkan penjelasan yang sangat detail dan sistematik, karena diawal – awal banyak pemahaman yang prokontra. Namun akhirnya bisa dipahami dan dikerjakan oleh masyarakat. Setelah penentuan kawasan ini masyarakat juga memilih anggota mereka untuk menjadi team patroli atau pemantau ketertiban kawasan.
Ada perubahan perilaku yang mulai nampak pada masyarakat Ayau, dari pola makan yang cukup terkenal dengan sebutan masyarakat pemakan penyu, akhirnya dapat dikurangi bahkan beberapa kampung sudah tidak mengkonsumsi penyu lagi.
Menurut kordinator tim monitoring, yang melakukan penelitian, Sdr. Erdy, bahwa kawasan ini cukup berpeluang untuk tujuan wisata selam, sehingga diharapkan kedepannya segera harus di dorong kearah Pariwisata, sehingga dapat juga dimanfaatkan bagi alternatif pendapatan ekonomi masyarakat di wilayah ini.
Selain kawasan konservasi yang telah disepakati dan dikelola oleh masyarakat kepulauan Ayau, juga terdapat beberapa lokasi seperti di wilayah teluk Mayalibit, Selat Dampir dan Waegeo barat yaitu dipulau Saint, piay dan pulau wayak yang juga memiliki potensi yang tidak kalah menarik, serta satu kawasan lagi yang menurut penilitian awal bersama TNC ( The Nature Conservation) adalah di wilayah Kofiau.
Tujuan terbentuknya kawasan – kawasan konservasi laut ini untuk mempertahankan ekosistem lingkungan hidup yang ada di Raja Ampat serta memperbanyak cadangan makanan yaitu tabunga ikan bagi masa depan anak cucu masyarakat di Raja Ampat.
Sayangnya, saat ini kawasan ini terancam karena berdekatan dengan areal aktivitas pertambangan saat ini, seperti pulau Manoram, Pulau Kawe, Teluk Mayalibit, Warwanai, Yembekaki, Kapadiri. Pulau-pulau ini memang direncanakan sebagai areal tambang. Hal ini tentunya sangat memungkinkan akan terjadi kerusakan yang fatal bagi keberadaan ekosistem lingkungan yang sangat kaya dari sektor kelauatan ini. (CHALY/CBP/SRG)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: